NTTKreatif, LARANTUKA – Publik Flores Timur dibuat tercengang dengan kondisi daerah khususnya pemerintahan di bawah kendali Pj Bupati, Sulastri HI Rasyid.
Bagaimana tidak, semula banyak berharap dirinya mampu mengemban tugas dan menyelesaikan segala persoalan di Flores Timur usai menggantikan posisi Doris Alexander Rihi yang paripurna tugas sebagai Pj Bupati.
Pengalaman jadi Kadis Perikanan Provinsi NTT dengan segudang keberhasilan diharapkan bisa ia tularkan di Flores Timur ini.
Namun, harapan tersebut ternyata hanya tinggal harapan.
Keberadaannya tidak membuat daerah jadi lebih baik. Satu persatu persoalan malah timbul di bawah kendalinya.
Terbaru tentu soal penanganan erupsi Gunung Lewotobi yang mengharuskan ribuan warga di dua kecamatan masing-masing Kecamatan Wulanggitang dan Ile Bura harus mengungsi.
Parahnya, kendati bencana tersebut sudah ditetapkan sebagai bencana Nasional dan sudah diintervensi pihak pemerintah pusat, tapi hal tersebut tidak membuat Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur sadar diri.
Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur seolah masih berkutat pada pola kerja yang sama seperti saat erupsi pertama terjadi yang kemudian menuai kritikan.
Bukan berubah mereka malah membuat keadaan tambah runyam dengan realitas pelik yang mengiringinya hingga mendapatkan sorotan tajam dari Menteri Perumahan, Maruarar Sirait.
Bahkan sang Menteri sampai menyemprot Pj Bupati, Sulastri HI Rasyid gara-gara tahu kalau sang Pj Bupati baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat relokasi yang ia kunjungi.
“Ibu pernah ke sini gak? Belum pernah ke sini. Pertama kali dengan saya kan. Kalau ibu usulkan harus cek dulu ibu. Harus cek dulu baru usulkan bukan sebaliknya. Jadi kami menghargai surat ibu makanya kami semua turun cek hari ini,” kata dalam video yang ia unggah di Ig pribadinya.
Bukan hanya Pj Bupati, Kadis perumahan Kabupaten Flores Timur, Eduard J. Fernandez pun mendapatkan perlakuan serupa.
Malah kali ini lebih parah. Dimana Menteri Maruarar Sirait dibuat kaget saat mengetahui jawaban sang kadis yang lebih memilih mengutus timnya untuk turun mengecek lokasi yang dijadikan tempat calon relokasi para pengungsi Gunung Lewotobi alih-alih turun tangan sendiri.
“Saya menteri, ini ada Kepala BNPB kami turun sendiri tanpa utus staf. Ini bintang tiga loh,” sindirnya.
Alhasil, keduanya pun mendapatkan sorotan tajam warganet hingga publik Flores Timur.
Banyak yang memberikan kritik tajam terkait kerja keduanya yang dianggap tidak cakap dalam menangani persoalan tersebut.
Buka Borok Pemerintah
Menariknya, kejadian tersebut pun kemudian membuka mata banyak pihak tentang kondisi Flores Timur saat ini di tengah penanganan erupsi Gunung Lewotobi.
Banyak ketidakberesan yang muncul ke permukaan bak baik di luar namun rusak di dalam.
Hal tersebut sudah tercium sedari awal jika berkaca pada kondisi hari ini dimana muncul masalah dengan buruknya penanganan bantuan di posko yang dianggap banyak pihak lelet tanpa ada pengaturan yang jelas.
Itu belum termasuk dengan ketidakjelasan dan perbedaan data pengungsi akibat erupsi Gunung Lewotobi. Pj Bupati punya data A, BPBD punya data B.
Data tersebut tentu bukan segalanya hanya jadi salah satu indikator dan bukti sahih kalau Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur ternyata tidak siap dalam menangani korban bencana erupsi tersebut.
Bahkan terkesan melihat erupsi tersebut hanya sebagai rutinitas semata tanpa melihatnya sebagai sebuah bentuk tanggung jawab kemanusian.
Alhasil, para korban terdampak pun seolah dibiarkan sendiri tanpa kejelasan.
|

Tinggalkan Balasan