SMA Swasta Kristen Waikabubak mengirimkan 6 (enam) siswi terbaiknya yang terdiri dari Gevieve Daniella Amaya, Kezia Hillary M. R. Paubun, Azarya Malika Paubun, Josephine Eugenia Wirianata, Ririn Auriel Kami, dan Erlichya Ferciani Kutika. Sementara SMA Negeri 1 Waikabubak mengirimkan 4 (empat) siswi terbaiknya, yakni Maria Louise Ulina Dimu, Rhiana Abigail Katu, Melina Dongu Laba, dan Olivia Ngudu Duka.

 

">

Sepuluh siswi dari dua SMA berbeda asal Kabupaten Sumba Barat itu, dibagi dalam dua tim berbeda dengan beranggotakan 5 (lima) orang dengan nama tim ‘SUMBA BISA 1’ dan ‘SUMBA BISA 2’. Tim 1 beranggotakan Gevieve Daniella Amaya, Kezia Hillary M. R. Paubun, Azarya Malika Paubun, Maria Louise Ulina Dimu, dan Rhiana Abigail Katu. Sedangkan Tim 2 terdiri dari Josephine Eugenia Wirianata, Ririn Auriel Kami, dan Erlichya Ferciani Kutika, Melina Dongu Laba, dan Olivia Ngudu Duka.

Melalui tangan dingin Budi Santoso dan Yayasan Terang Sumba, kedua Tim asal Kabupaten Sumba Barat ini berhasil membawa pulang dua medali emas.

Tim 1 berhasil meraih Medali Emas dan IYSA Semi Grand Award dengan karya tulis berjudul “The capability ST-PS as an anti-aging cream plus”. Penelitian ini mengangkat kombinasi dua tanaman, yaitu Padina australis dan Salicornia herbacea L., sebagai alternatif STEM CELL alami untuk anti-penuaan kulit. Kedua tanaman tersebut mengandung senyawa antioksidan dan anti-inflamasi yang efektif mencegah penuaan dini, mengurangi kerutan, mencerahkan, dan melembabkan kulit. Produk akhir dari riset ini adalah krim bernama PEARL-SKIN, yang didukung oleh PT. Eskol Surya Anugerah. Riset tim 1 merupakan riset terbaik kedua dari 246 siswa/I, baik lomba online maupun offline. Tim 1 juga mendapat tiket free registration EXPO 2025.

 

Sementara Tim 2, juga memperoleh Medali Emas dan Best Presentation Award berkat karya berjudul “The Effect Of Anthocyanin-ipomoea-Erythrocyte Indicator Of Cancer” yang mengusung metode deteksi dini kanker menggunakan ekstrak antosianin dari ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.). Penelitian ini memanfaatkan perubahan warna dan analisis fragmentasi eritrosit sebagai indikator keberadaan sel kanker dalam tubuh. Keunggulan tim ini terletak pada kemampuan mempresentasikan materi secara jelas, tajam, dan dalam bahasa Inggris yang fasih.

Prestasi yang membanggakan ini menegaskan bahwa pelajar dari daerah pun mampu bersaing dan unggul dalam kompetisi ilmiah tingkat dunia. Dengan ajang kompetisi ini diharapkan akan lebih banyak lagi prestasi anak-anak muda Sumba di masa depan. Prestasi ini tidak hanya mengangkat nama Kabupaten Sumba Barat di tingkat internasional, tetapi juga menunjukkan potensi besar generasi muda dalam bidang sains dan teknologi.

Bupati Yohanis Dade berharap, keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi siswa-siswi lain untuk terus berkarya dan berinovasi demi kemajuan daerah dan bangsa.

Dengan prestasi gemilang ini, Sumba Barat semakin dikenal sebagai daerah yang mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi, khususnya di kalangan pelajar muda yang siap bersaing di dunia global.***

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625