NTTKreatif, SUMBA – Provinsi NTT kendati dikenal sebagai salah satu provinsi termiskin di Indonesia namun siapa sangka provinsi yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste tersebut nyatanya memiliki banyak kekayaan alam dan budayanya. Salah satunya yang ada Pulau Sumba.
Tidak mengherankan jika kini Pulau yang dikenal dengan budaya marapunya itu masuk dalam kategori pulau terindah di dunia.
Hal itu berimbas pada tingkat kunjungan wisatawan ke pulau tersebut.
Banyak diantaranya datang tidak hanya sekedar menikmati alam Sumba yang asri tapi juga budayanya seperti atraksi Pasola yang mendunia tersebut.
Atraksi Pasola sendiri berdasarkan situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud) merupakan tradisi masyarakat Sumba Barat dan Barat Daya untuk merayakan tanam padi atau sebelum panen.
Pasola berasal dari kata sola dan hola yang berarti tombak. Ketika awalan “pa” (pa-sola, pa-hola) diperoleh, artinya berubah menjadi bermain.
Namun dalam konteks ritual, pasola adalah tradisi perang antara dua kubu yang berseberangan yang saling kejar-kejaran dengan melemparkan tombak kayu ke arah lawannya.
Pasola, atau diablo, berarti suatu keahlian melempar tombak kayu (lebih di kenal dengan lembing) satu sama lain dari punggung kuda yang berlari kencang di antara dua kelompok yang berlawanan.
Menariknya atraksi Pasola ini dilaksanakan sebagai puncak dari perayaan adat Nyale yang diadakan untuk memohon restu para dewa dan leluhur, memohon ampunan, kemakmuran dan hasil panen yang melimpah.
Dilakukan di 4 Wilayah
Menariknya atraksi Pasola ini diadakan di empat wilayah, dimulai dari Kodi, kemudian Wanokaka, Gaura dan Lamboya dengan waktu pelaksaan dimulai dari Bulan Februari dan Maret.
Namun begitu, penentuan waktu pelaksaan atraksi Pasola tersebut bukan ditentukan sembarang orang namun ditentukan oleh para Rato Adat sesuai dengan petujuk yang didapat dari leluhur.
Usai mendapat kepastian maka atraksi Pasola akan dimulai dari enam hingga delapan hari setelah bulan purnama.
Di lapangan yang luas, mereka bertanding dengan menunggang kuda dan dipersenjatai dengan tombak kayu dengan ujung tumpul berdiameter kurang lebih 1,5 sentimeter.
Meski hanya tradisi, bukan tidak mungkin seseorang terluka atau bahkan mati. Pemain yang cedera dirawat dengan air dari wadah suci Rat.
Sementara menurut kepercayaan Marapu (agama asli suku Sumba), korban Pasola dianggap dihukum oleh dewa karena melakukan kejahatan atau kesalahan.
Sekalipun ada yang terluka atau terbunuh, pemain Pasola tidak disalahkan atas kejadian buruk tersebut.***
|

1 Komentar
If some one needs to be updated with most recent technologies afterward he must
be pay a quick visit this web page and be up to date all
the time.
Here is my blog … fintechbase