Oleh: Martha Angelica Stefania Mite Mamo
Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi sumber utama informasi bagi masyarakat. Namun, kemudahan akses dan banjir informasi yang muncul justru menimbulkan fenomena krisis kepercayaan publik terhadap berita yang beredar.
Media sosial menjadi salah satu akses dimana setiap orang bisa mendapat banyak informasi baik dari dalam negri maupun luar negri. Kehadiran media social sendiri memainkan peran spesifik dalam mengakses teknologi secara lebih mudah dan efektif.
Penyebab Krisis Kepercayaan
Beberapa faktor utama yang memicu krisis kepercayaan ini, antara lain:
- Arus Informasi Tidak Terfilter
Media sosial memudahkan siapapun menjadi produsen informasi tanpa proses verifikasi yang jelas. Informasi dapat menyebar cepat melalui media social,website dan platform digital lain tanpa proses verifikasi atau pengecekan kebenaran terlebih dahulu. Akibatnya, masyarakat kerap terpapar misinformasi maupun disinformasi yang bercampur dengan fakta membuat batas kebenaran menjadi kabur.
- Polarisasi dan Bias Media
Polarisasi terjadi saat masyarakat terbelah menjadi kelompok-kelompok dengan pandangan yang sangat berbeda dan cenderung ekstrem. Bias media muncul ketika media memihak suatu kelompok,ideology,atau narasi tertentu. Diseminasi berita di media sosial sering diwarnai sudut pandang ideologis tertentu, sehingga menimbulkan polarisasi dan meningkatkan kecurigaan terhadap objektivitas media resmi maupun nonresmi.
- Menurunnya Kualitas Jurnalistik
Demi mengejar klik dan atensi di jagat maya, sejumlah media kerap mengutamakan konten sensasional daripada kualitas dan akurasi. Ini memperdalam skeptisisme masyarakat terhadap berita. Konsumsi berita masyarakat kini didominasi oleh media digital dan jejaring social. Hal ini mempercepat budaya informasi instan tanpa proses verfikasi dan kurasi memadai. Media massa akhirnya terdorong mengejar trafik dan viralitas bukan lagi kualitas dan integritas konten.
Dampak pada Kehidupan Publik
Krisis kepercayaan terhadap berita mempunyai konsekuensi yang luas, seperti:
- Penurunan Audiens Media Arus Utama
Publik kini cenderung berpaling ke sumber alternatif yang belum tentu terverifikasi, hingga memperluas potensi paparan hoaks. Masyarakat kini lebih memilih informasi dari kanal digital,platform video pendek (youtube,tik tok) dan kanal berita berbasis komunitas. Platform seperti google dan youtube menjangkau audiens langsung sehingga peran media mainstream sebagai penjaga gerbang informasi semakin tergerus.
- Ketidakpastian Politik dan Sosial
Sulitnya membedakan kebenaran menyebabkan masyarakat rentan terpecah, serta dapat mengancam stabilitas demokrasi. Ketidakpastian politik mengakibatkan masyarakat semakin ragu terhadap pemerintah dan institusi Negara. Hal ini menciptakan krisis kepercayaan dan menurunnya legitimasi pemerintah hingga munculnya protes atau gelombang demonstrasi.
- Citra Lembaga Mudah Direkayasa
Di media sosial, persepsi sering kali lebih kuat daripada data. Klarifikasi resmi dari institusi tidak selalu dipercaya bila narasi populer bertentangan dengan fakta. Ketidakpastian dan polarisasi menyebabkan masyarakat kesulitan membedakan infromasi yang benar dan manipulatif. Orang cenderung menerima narasi yang sesuai keyakinannya sehingga rekayasa citra lebih mudah diterima tanpa verfikasi.
Solusi dan Rekomendasi
Agar kepercayaan publik terhadap berita dapat pulih, beberapa strategi perlu dijalankan:
- Meningkatkan Transparansi dan Akuntabilitas
Media harus lebih terbuka mengenai proses kerja jurnalistik dan sumber informasi yang digunakan. Pengembangan platform digital seperti website resmi,aplikasi pelaporan publik,dan system informasi anggaran jauh lebih efektif dalam menyediakan akses informasi yang mudah,cepat dan real time bagi masyarakat. Ini mencakup publikasi laporan keuangan,data proyek hingga update kinerja layanan pubik.
- Edukasi Literasi Digital
Masyarakat perlu dibekali kemampuan kritik terhadap sumber berita agar tidak mudah terseret narasi palsu atau provokatif. Keterampilan melindungi data pribadi dan menghindari kejahatan siber.
- Kecepatan dan Konsistensi Respons
Dalam menghadapi isu yang viral di media sosial, kecepatan respons sangat krusial. Pernyataan resmi yang lambat hanya akan memberi ruang suburnya spekulasi. Menjadi indikator utama kualitas pelayan publik serta keterbukaan informasi lembaga pemerintah.
- Kolaborasi dengan Influencer Positif
Keterlibatan tokoh yang dipercaya publik dapat membantu mengklarifikasi isu secara efektif di ranah digital. Influencer dengan rekam jejak baik mampu memperbaiki presepsi publik terhadap program,instansi, atau pemerintah baik nasiaonal maupun daerah. Konten yang inspiratif dan edukatif dapat memperkuat narasi kepercayaan serta nilai-nilai positif.
Penutup
Krisis kepercayaan publik terhadap berita di era media sosial menuntut kolaborasi semua pihak media, pemerintah, dan masyarakat untuk menguatkan literasi, menjaga etika, dan mempercepat respons. Hanya dengan demikian, kepercayaan terhadap berita yang berkualitas dapat kembali ditegakkan sebagai fondasi demokrasi dan harmoni sosial.***
Penulis adalah mahasiswi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu sosial dan politik, Universitas Nusa Cendana-Kupang.Â
|
