Oleh: Martha Angelica Stefania Mite Mamo

Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi sumber utama informasi  bagi masyarakat. Namun, kemudahan akses dan banjir informasi yang muncul justru menimbulkan fenomena krisis kepercayaan publik terhadap berita yang beredar.

Media sosial menjadi salah satu akses dimana setiap orang bisa mendapat banyak  informasi baik dari dalam negri maupun luar negri. Kehadiran media social sendiri memainkan peran spesifik dalam mengakses teknologi secara lebih mudah dan efektif.

">

Penyebab Krisis Kepercayaan

Beberapa faktor utama yang memicu krisis kepercayaan ini, antara lain:

  1. Arus Informasi Tidak Terfilter

Media sosial memudahkan siapapun menjadi produsen informasi tanpa proses verifikasi yang jelas. Informasi dapat menyebar cepat melalui media social,website dan platform digital lain tanpa proses verifikasi atau pengecekan kebenaran terlebih dahulu. Akibatnya, masyarakat kerap terpapar misinformasi maupun disinformasi yang bercampur dengan fakta membuat batas kebenaran menjadi kabur.

  1. Polarisasi dan Bias Media

Polarisasi terjadi saat masyarakat terbelah menjadi kelompok-kelompok dengan pandangan yang sangat berbeda dan cenderung ekstrem. Bias media muncul ketika media memihak suatu kelompok,ideology,atau narasi tertentu. Diseminasi berita di media sosial sering diwarnai sudut pandang ideologis tertentu, sehingga menimbulkan polarisasi dan meningkatkan kecurigaan terhadap objektivitas media resmi maupun nonresmi.

  1. Menurunnya Kualitas Jurnalistik

Demi mengejar klik dan atensi di jagat maya, sejumlah media kerap mengutamakan konten sensasional daripada kualitas dan akurasi. Ini memperdalam skeptisisme masyarakat terhadap berita. Konsumsi berita masyarakat kini didominasi oleh media digital dan jejaring social. Hal ini mempercepat budaya informasi instan tanpa proses verfikasi dan kurasi memadai. Media massa akhirnya terdorong mengejar trafik dan viralitas bukan lagi kualitas dan integritas konten.

Dampak pada Kehidupan Publik

Krisis kepercayaan terhadap berita mempunyai konsekuensi yang luas, seperti:

  1. Penurunan Audiens Media Arus Utama

Publik kini cenderung berpaling ke sumber alternatif yang belum tentu terverifikasi, hingga memperluas potensi paparan hoaks. Masyarakat kini lebih memilih informasi dari kanal digital,platform video pendek (youtube,tik tok) dan kanal berita berbasis komunitas. Platform seperti google dan youtube menjangkau audiens langsung sehingga peran media mainstream sebagai penjaga gerbang informasi semakin tergerus.

  1. Ketidakpastian Politik dan Sosial

Sulitnya membedakan kebenaran menyebabkan masyarakat rentan terpecah, serta dapat mengancam stabilitas demokrasi. Ketidakpastian politik mengakibatkan masyarakat semakin ragu terhadap pemerintah dan institusi Negara. Hal ini menciptakan krisis kepercayaan dan menurunnya legitimasi pemerintah hingga munculnya protes atau gelombang demonstrasi.

  1. Citra Lembaga Mudah Direkayasa

Di media sosial, persepsi sering kali lebih kuat daripada data. Klarifikasi resmi dari institusi tidak selalu dipercaya bila narasi populer bertentangan dengan fakta. Ketidakpastian dan polarisasi menyebabkan masyarakat kesulitan membedakan infromasi yang benar dan manipulatif. Orang cenderung menerima narasi yang sesuai keyakinannya sehingga rekayasa citra lebih mudah diterima tanpa verfikasi.

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625