NTTKreatif, FLOTIM – Pulau Solor adalah salah satu pulau di Kabupaten Flores Timur (Flotim) selain Pulau Adonara.

Luasnya pun tidak seberapa. Begitupun dengan jumlah penduduknya. Mereka masih kalah dengan jumlah penduduk di Pulau Adonara maupun jumlah penduduk di Flores Timur daratan.

">

Begitu pun soal sumber daya alam. Pulau yang dahulu dikenal sebagai pulau cendana itu juga kalah segala-galanya dari dua saudaranya itu.

Dengan alam yang kering dan didominasi bebatuan cadas, masyarakat di Pulau Solor memang agak kesulitan menggantungkan harapan pada hasil komoditi pertanian semata.

Sehingga banyak diantaranya kemudian memilih menjadi nelayan untuk menghidupi keluarganya.

Kendati begitu, tidak banyak publik yang tahu kalau di Pulau yang berbentuk pistol itu menyimpan beragam budayanya yang unik dan bertahan hingga kini.

Salah satunya adalah ritual adat Wuu Nuran milik Bangsa Balaweling di dusun Lamalewo, Desa Balaweling 1, Kecamatan Solor Barat.

Ritual ini sendiri biasanya digelar setiap 5 tahunnya dan diikuti oleh satu Lewo dan 7 Duli Duli Weruin Ulu Lau Pali Keneli Lima Wana/ Duli Taliha Laman Mayan Pali Mayan Lama Tali (Lamateliha), Duli Muda Lama Tulun Pali Bao Lama Banga (Lamariang), Duli Week Lama Rebon Pali Kenila Lolon Gire (Kenila), Duli Laka Lama Mayan Pali Mayan Lama Tali (Lamalaka), Duli Rita Lolon Eban Palin Bao Lolon Owa (Ritaebang), Duli Lupan Lolon Kuman Pali Au Gatan Matan (Auglaran), Duli Sunge Hara Wewan Pali Kadila Duru Basa (Riangsunge).

Ritual adat Wuu Nuran sendiri merupakan sebuah perayaan syukur atas panen dengan memadukan budaya dan agama sebagai bentuk penghormatan kepada Bapa Kelake Lera Wulan, Ema Kewae Tana Ekan, dan leluhur lewotana yang telah memberikan mereka kehidupan.

Dimulai Dengan Pengantaran Uma Lamak

Ritual ini sendiri dimulai dengan Pengataran gelaran ritus uma lamak dimana masyarakat Balaweling yang bermayoritas petani dan beragama Katolik ini mulai berbondong-bondong menuju rumah adat suku-suku besar atau Semata Pa (Niron-Maran, Niron-Hurit, Keban-Koten, dan Keban-Kelen) guna menggelar Ritus Uma Lamak atau ritus pengantaran bagian ke Rumah Adat Suku Balawelin (Lango Belen) tempat dimana Bapa Lewo Ema Tana atau Tuan Tana berdiam dan dipercayakan sebagai kepala suku Masyarakat Balaweling.

Sejatinya dalam ritus ini, Uma Lamak yang disiapkan antara lain beras, hewan dan lain sebagainya.

Ritus ini sendiri selain dikenal dengan Uma Lamak juga kerap dikenal dengan Bau Baku atau meletakkan nasi ke dalam bakul besar sesuai dengan hitungan anak laki-laki di rumah suku masing-masing.

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625