NTTKreatif, Larantuka Flores Timur kembali diguncang skandal. Solar bersubsidi, yang sejatinya diperuntukkan bagi nelayan kecil, petani, serta masyarakat berpenghasilan rendah, diduga kuat nyasar ke berbagai proyek pembangunan hingga ke lokasi hunian sementara bagi warga terdampak erupsi Gunung Lewotobi.

Temuan ini membuka babak baru pertanyaan publik: siapa menikmati keuntungan dari permainan kotor ini, dan siapa yang harus bertanggung jawab?

">

Informasi yang diterima redaksi mengungkap bahwa suplai BBM subsidi jenis Solar dalam beberapa bulan terakhir mengalami kelangkaan di sejumlah SPBU maupun pangkalan resmi di Flores Timur.

Namun ironisnya, di lapangan justru terpantau aktivitas alat berat yang tak pernah berhenti bekerja di sejumlah proyek pembangunan, mulai dari proyek infrastruktur hingga penyiapan kawasan hunian sementara bagi penyintas erupsi Lewotobi.

Dugaan pun menguat: Solar bersubsidi dialihkan secara sistematis untuk menunjang pekerjaan proyek yang bernilai miliaran rupiah.

Sejumlah sopir truk dan operator alat berat yang enggan disebutkan namanya mengaku bahwa Solar yang mereka gunakan “sudah disiapkan bos.” Siapa sang bos? Mereka bungkam.

Namun sumber internal menegaskan adanya keterlibatan oknum-oknum tertentu yang diduga memanfaatkan kedekatan dengan pihak pengelola proyek maupun penanggung jawab lapangan.

Jika dugaan ini benar, maka praktik tersebut bukan sekadar pelanggaran distribusi BBM, tetapi juga indikasi penyalahgunaan fasilitas negara demi kepentingan kelompok tertentu, bahkan di tengah situasi darurat bencana.

Warga penyintas erupsi Lewotobi yang tinggal di hunian sementara pun tak luput dari sorotan. Pasokan Solar diduga diatur sedemikian rupa untuk mempercepat pembangunan lokasi penampungan—tetapi tak jelas apakah dengan prosedur legal atau tidak.

Publik pun menuntut transparansi. Siapa dalang utama yang diduga mengatur aliran Solar subsidi ini? Apakah ada keterlibatan kontraktor? Distributor? APH?Atau kombinasi semuanya?

Pemerintah daerah, aparat penegak hukum, hingga Pertamina sejauh ini belum memberikan pernyataan resmi. Namun tekanan publik makin keras: angan biarkan Solar subsidi yang seharusnya menghidupi masyarakat kecil justru menjadi bahan bakar bagi praktik culas para pemain proyek.

Skandal ini bukan sekadar kasus penyimpangan BBM. Ini adalah ujian moral bagi para pemegang tanggung jawab di Flores Timur. Jika benar terjadi permainan terselubung, maka kepala-kepala yang terlibat harus digulung dan dihadapkan pada proses hukum.***

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625