NTTKreatif, Larantuka – Hari ini umat Katolik akan memasuki hari Kamis Putih. Kamis Putih sendiri adalah salah satu hari menjelang Paskah yang dalam gereja katolik disebut tri hari suci.
Kamis Putih sendiri dimaknai sebagai peringatan akan Yesus yang melakukan perjamuan bersama 12 muridnya termasuk Yudas Iskariot yang akhirnya menjual Yesus demi 12 keping uang perak.
Tidak hanya makan bersama, Kamis Putih juga bagian dari mengenang saat Yesus membasuh kaki para muridnya yang membuat dirinya dijadikan model pemimpin pelayan sampai hari ini.
Dimana Yesus melakukan sebuah ritual yang biasa dilakukan dengan cara yang tidak berbeda. Yesus melakukan pekerjaan yang seharusnya tidak layak dilakukan oleh seorang Guru.
Tata gerak membasuh kaki ini menyimbolkan suatu teladan untuk merendahkan diri dan melayani. Yesus melakukan pekerjaan yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang Guru kepada murid-Nya. Tata gerak membasuh kaki ini menyimbolkan suatu teladan untuk merendahkan diri dan melayani.
Peringatan Kamis Putih ini pun nantinya akan diulangi dalam setiap misa atau kebaktian diperingati sebagai perayaan Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Pada misa malam ini, Imam akan mencuci kaki umat sebagai peringatan Yesus yang mencuci kaki para murid-Nya dalam perjamuan terakhir, pelayanan Yesus di dunia sebelum kematian-Nya.
Dalam Katolik Roma, tata ibadah Kamis Putih terbagi atas empat bagian besar, yaitu: Ibadat Sabda, Upacara Pembasuhan Kaki, Liturgi Ekaristi, dan Perarakan Pemindahan Sakramen Mahakudus.
Secara umum, tata urutan misa berlangsung seperti Perayaan Ekaristi pada hari Sabtu/Minggu biasa, namun pada perayaan ini terdapat upacara pembasuhan kaki dan upacara Perarakan Pemindahan Sakramen Mahakudus.
Selain itu, pada perayaan ini digunakan bel kayu sebagai pengganti gong/bel pada Doa Syukur Agung, serta tidak ada lagu penutup perayaan.
Lalu apa makna sebenarnya dari Kamis Putih?
Kamis putih adalah sebuah simbol penyerahan Yesus sebelum kematiannya sekaligus simbol pemimpin yang melayani. Diri rela menjadi lebih rendah sama dengan para murid yang ia pimpin tanpa mengeluh ataupun berkomentar. Dirinya terlihat pasrah dan menerima Kehendak Bapa di Surga walaupun di satu sisi Dirinya tahu dari 12 muridNya itu ada yang jadi pengkhianat.***
|
