NTTKreatif, LARANTUKA – Kinerja penyidik Polres Flotim Nusa Tenggara Timur (NTT) dipertanyakan oleh pengamat hukum hingga aktivis.

Pasalnya, penanganan kasus jual beli beras bencana Gunung Lewotobi Laki-laki di Desa Ile Gerong, Kecamatan Titehena yang diselidiki polisi sejak Januari 2025 belum menunjukkan progress positif.

">

Padahal, sejumlah saksi dan barang bukti berupa beras sudah dikantongi.

“Penegakkan hukum harus maksimal. Berharap pihak Polres Flotim yang menangani kasus ini segera melakukan tindakan-tindakan hukum yang progresif (kemajuan) agar kasus segera terselesaikan,” ucap Pengamat Hukum Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Mikhael Feka, Kamis, 13 Februari 2025 tadi.

Hal tersebut ungkapnya penting, selain memberikan efek jera bagi para pelaku, penegakkan hukum secara tegas juga akan mengembalikan kepercayaan publik khususnya kalangan donatur yang memberikan bantuan kemanusiaan.

Diungkapkan Michael, jika kasus semacam ini dibiarkan tanpa tindakan tegas, maka akan berdampak panjang.

Dirinya mencontohkan para donatur yang berkeinginan membantu sejak awal bisa saja tidak percaya lantaran bantuan disalahgunakan oleh oknun-oknum tidak bertanggung jawab.

“Pelaku harus mendapat efek jera. Kita tidak tahu kapan bencana akan berakhir. Ini supaya tak berdampak panjang terhadap kepercayaan orang yang menyumbang, kemudian kepada masyarakat terdampak. Ini Harus menjadi atensi, harus menjadi prioritas agar menimbulkan trust (kepercayaan) publik kembali. Kalau dibiarkan, maka yang susah masyarakat korban bencana,” ucapnya.

Terpisah, salah satu aktivis anti korupsi di Flores Timur, Kanis Soge meminta dan mendesak polisi agar menangkap para pelaku yang terlibat dalam praktik jual beli beras tersebut. Menjual bantuan bencana, kata dia, termasuk kejahatan kemanusiaan paling kejam.

“Segera tangkap, adili, dan penjarakan orang-orang yang diduga melakukan tindak pidana dalam bentuk menjual barang bantuan bencana,” katanya

Dirinya menilai, ketika kasus-kasus seperti ini dibiarkan tanpa tindakan hukum, maka segala bentuk kejahatan serupa akan terus terjadi. Dia berharap polisi segera menetapkan para pihak yang bertanggungjawab sebagai tersangka.

“Rakyat sedang menderita, ekonomi terpuruk, bahkan kemiskinan karena bencana alam. Lalu kenapa mereka diperparah kembali kondisinya dengan uluran tangan orang yang punya kasih dan jiwa berbagi, tetapi hasil dari jiwa berbagi itu diperjualbelikan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab,” katanya.

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625