Dengan mengangkat tema “Gereja Berwajah Perantau, Berziarah dalam Pengharapan: Mencari Solusi Praktis Pastoral”, Perpas XII berupaya merumuskan respons konkret Gereja terhadap realitas migrasi yang kian kompleks.

Uskup, Keuskupan Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr., menegaskan bahwa migrasi telah menjadi wajah kehidupan umat Katolik di NTT. Namun, migrasi yang sering dipandang sebagai jalan keluar ekonomi juga membawa risiko serius.

">

“Di balik keberhasilan ekonomi keluarga perantau, terdapat persoalan yang tidak kecil: perdagangan orang, kekerasan, pelecehan seksual, kehilangan akses pendidikan dan kesehatan, bahkan kehilangan arah iman,” ujar Uskup Fransiskus.

Karena itu, lanjut dia, Perpas kali ini tidak hanya menjadi forum internal Gereja, tetapi juga melibatkan pihak eksternal guna membangun sinergi.

“Kita butuh kolaborasi antara Gereja, negara, dan masyarakat sipil. Perpas harus melahirkan solusi nyata yang bisa diterapkan di tingkat keuskupan dan paroki,” katanya.

Perpas XII bukan hanya sebuah ajang temu antar keuskupan, tetapi juga menjadi momentum strategis untuk memperkuat pastoral Gereja yang relevan dengan konteks sosial masyarakat.

Uskup Fransiskus pun mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung dan menyambut para tamu Gereja dengan semangat kebersamaan.

“Sebagai tuan rumah, mari kita jadikan Larantuka sebagai rumah persaudaraan. Ini saatnya kita hadir, bukan hanya sebagai penyelenggara, tetapi juga sebagai Gereja yang hidup dan solider,” tutupnya. *(Ell)

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625