NTTKreatif.com, WAIKABUBAK – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sumba Barat, Charles Pekadede Tenabolo, S.Ap mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus pengrusakan dan penganiayaan di RSUD Waikabubak. Kasus ini terjadi pada tanggal 24 Januari 2025, pukul 00.23 Wita pekan lalu.

Dalam kejadian ini, dua orang nakes (petugas) yang sedang bertugas menjadi korban penganiayaan, yakni Nikson G. H. Parengu mengalami luka di bagian kepala dengan empat jahitan, sementara Lidia Linda Bili mengalami luka di bagian jari tangan. Selain itu, kaca di ruangan tindakan bedah IGD, pecah akibat lemparan batu dari pelaku.

">

Kejadian ini telah dilaporkan resmi oleh Direktur RSUD Waikabubak bersama Kepala Dinas Kesehatan di Polres Sumba Barat dengan Laporan Polisi Nomor : LP/B/17/4/2025/SPKT/POLRES SUMBA BARAT/POLDA NUSA TENGGARA TIMUR tanggal 24 Januari 2025 pukul 02.17 WITA.

Ketua DPRD Sumba Barat, Charles Pekadede Tenabolo, angkat bicara dan mendesak kepolisian untuk mengusut kasus tersebut.

“Ini harus di usut tuntas dan diberikan hukuman yang setimpal sesuai dengan perbuatannya,” kata Charles Pekadede yang didampingi Wakil Ketua I dan II DPRD Sumba Barat, saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Kamis (30/1/2025) pagi.

Ketua DPRD Sumba Barat periode 2024-2029 itu mengaku sangat menyayangkan kejadian tersebut.

“Tidak boleh pandang bulu, siapapun pelakunya harus dihukum supaya menjadi efek jera buat yang lain yang mau melakukan hal serupa. Kasian tenaga medis yang selalu menjadi korban penganiayaan. Kami berharap kepada Kapolres Sumba Barat untuk segera tuntaskan kasus ini,” pungkasnya.

Selain itu, Pimpinan DPRD Sumba Barat meminta kepada Direktur RSUD Waikabubak untuk membenahi manajemen rumah sakit.

“Saya juga minta kepada Direktur RSUD Waikabubak untuk benahi manajemen rumah sakit. Sekuriti yang ditugaskan di RSUD harus benar-benar difungsikan untuk menjaga keamanan, terutama kenyamanan tenaga medis yang bertugas,”

Charles juga mengimbau, agar Direktur RSUD Waikabubak segera memperbaiki CCTV di RSUD Waikabubak yang selama ini tidak berfungsi karena rusak.

“Di RSUD selalu terjadi kehilangan, saya harapkan agar CCTV yang dipasang di RSUD yang selama ini tidak berfungsi untuk segera diperbaiki oleh pihak RSUD. Sehingga setiap kalau ada kejadian bisa terekam,” pintanya.

Ditemui secara terpisah, Kapolres Sumba Barat AKBP Hendra Dorizen, membenarkan bahwa kasus tersebut sudah dilaporkan dan hari ini sedang proses pemanggilan saksi.

“Terkait kasus penganiayaan dan pengrusakan di RSUD Waikabubak sudah dilaporkan. Hari ini kami panggil saksi yang hadir pada waktu kejadian untuk dimintai keterangan,” kata Dorizen saat ditemui wartawan di ruang kerjanya pagi tadi.

Kapolres Sumba Barat juga berkomitmen menuntaskan kasus tersebut.

“Hari ini proses pemanggilan saksi, kami tetap komitmen tuntaskan kasus ini,” kata dia.

Kronologi Kejadian

Kasus ini bermula ketika pelaku masuk ruang IGD yang menanyakan sekuriti rumah sakit, lalu dijawab oleh salah satu petugas (perawat) yang sedang membantu dokter di ruang IGD, dengan mengatakan bahwa sekuriti tidak ada. Dari jawaban petugas tersebut, pelaku pengrusakan dan penganiayaan menjadi marah hingga mengeluarkan kata-kata makian terhadap petugas saat itu.

Saat ditemui media ini, Nikson Parengu yang menjadi korban penganiayaan dalam kasus ini menjelaskan kronologi kejadian.

“Awalnya pelaku masuk di ruangan menanyakan sekuriti rumah sakit lalu saya jawab sekuritinya tidak ada. Karena pada waktu itu saya tidak lihat sekuriti, sehingga saya jawab tidak ada,” kata Nikson

Lebih lanjut Nikson, karena pelaku tanya terus sekuriti, Nikson pun kembali menjawab dengan mengatakan kalau tidak ada di sini kemungkinan sekuritinya ada di belakang. Dari jawaban inilah yang membuat pelaku marah-marah hingga keluarkan kata-kata cacian terhadap petugas.

“Waktu itu saya sementara bantu dokter yang sedang tangani pasien yang gawat, karena pelaku tanya terus sekuriti, jadi saya jawab kalau tidak ada di sini kemungkinan sekuriti dibelakang. Pelaku langsung marah-marah hingga keluarkan kata-kata cacian. Saya bilang ke dia, kalau saya salah saya minta maaf,” ungkap Nikson.

Bukan hanya itu, pelaku pun melemparkan botol aqua di muka petugas hingga keluarga pasien yang sedang ditangani dokter saat itu, menarik pelaku untuk keluar dari ruangan IGD.

“Keluarga pasien yang ditangani dokter waktu itu, juga minta tolong ke pelaku untuk diam, namun pelaku melemparkan botol aqua ke arah muka saya sehingga saya silih. Keluarga pasien langsung bawa pelaku di luar. Beberapa menit kemudian, pelaku kembali masuk di ruang IGD dengan membawa batu putih dan melempar kepala saya, kepala saya luka empat jahitan,” tuturnya.

Selain itu, Lidia Linda Bili juga menjadi korban pelemparan pelaku. Lidia mengalami luka dibagian jari setelah menangkis lemparan batu yang kedua yang mengarah ke muka Nikson. Dari tangkisannya itu, batu dari lemparan pelaku mengenai kaca di ruang tindakan bedah menjadi pecah.***

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625