“Semakin besar badai yang menerpa, semakin kokoh pohon iman yang berakar dalam Kristus.”
Oleh: Dr (c). Ir. Karolus Karni Lando, MBA
NTTKreatif, LARANTUKA — Pekan Suci di Kota Seribu Kapel, Larantuka, kembali menjadi saksi dari sebuah iman yang hidup dan menyala di tengah dunia yang kerap dipenuhi skeptisisme. Tahun ini, Semana Santa tidak hanya diwarnai oleh devosi mendalam umat Katolik, tetapi juga oleh hujan deras dan angin kencang. Namun, badai tak mampu meruntuhkan tekad dan cinta umat kepada Tuhan dan Bunda Maria. Justru dalam kondisi cuaca yang kurang bersahabat itu, iman umat Larantuka tampak paling kokoh dan bercahaya.
Kamis Putih: Malam Penuh Cinta dan Penyerahan Diri
Semana Santa dimulai dengan Kamis Putih, saat umat merayakan Misa Perjamuan Kudus dalam suasana hening dan penuh penghormatan. Yesus yang membasuh kaki para murid menjadi simbol kerendahan hati dan kasih yang tak bersyarat. Di Larantuka, malam ini menjadi titik awal ziarah batin. Kapel-kapel tua dipadati umat yang berdoa, bersujud, dan mempersiapkan hati untuk memasuki misteri sengsara Kristus.
Jumat Agung: Hujan dan Angin Tak Halangi Umat Berdevosi
Jumat Agung, atau Hari Bae, adalah puncak devosi Semana Santa. Dari pagi hingga sore, hujan mengguyur dan angin bertiup kencang. Namun, ribuan umat tetap setia mengikuti prosesi. Anak-anak, orang dewasa, hingga lansia berlutut di jalanan basah, mencium karpet, dan memanjatkan doa.
Seorang umat dengan mata berkaca-kaca berkata, “Kami rela mati di kaki Tuhan Yesus karena iman kami.” Kata-kata ini mencerminkan kekuatan iman yang tak tergoyahkan oleh cuaca maupun keadaan. Patung Tuan Ma dan Tuan Ana—lambang kasih dan penderitaan Kristus serta Bunda Maria—diarak dari gereja, melewati stasi-stasi doa, hingga kembali dalam keheningan yang kudus.
Dalam guyuran hujan, umat tidak meminta langit cerah. Mereka meminta kekuatan untuk tetap setia. Inilah cinta yang sejati, cinta yang tidak mementingkan kenyamanan, tetapi setia dalam penderitaan.
Sabtu Suci: Malam Penuh Harapan
Malam Sabtu Suci menjadi simbol kebangkitan harapan. Lilin Paskah dinyalakan, menyinari malam yang gelap, dan menjadi tanda bahwa Sang Terang Dunia telah bangkit. Umat diajak untuk meninggalkan “kubur dosa” dan berjalan dalam hidup yang baru. Di Larantuka, cahaya lilin yang menyala ditengah hujan menjadi simbol pengharapan yang telah teruji dalam kesetiaan.
|
