Minggu Paskah: Kebangkitan Iman dan Harapan

Hari Minggu Paskah hadir sebagai puncak sukacita. Gereja dipenuhi umat yang penuh rasa syukur dan suka cita, namun tetap menjaga kesederhanaan dan penghormatan. Dalam homilinya, Bapa Uskup Larantuka kembali menegaskan bahwa Paskah bukanlah sekadar perayaan, melainkan sebuah perutusan:

“Iman tanpa perbuatan adalah mati.” (Yakobus 2:26)

">

Iman yang diwariskan di Larantuka bukan sekadar tradisi budaya. Iman ini adalah kekuatan hidup, yang membuat umat rela berkorban di kaki Tuhan. Generasi muda ikut mendayung sampan, mencium karpet dengan sungguh-sungguh. Mereka adalah wajah Gereja masa depan.

Yang mulia Uskup Keuskupan Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr., juga berbagi kesaksiannya: “Pada hari Jumat sebelum prosesi, saya berdoa agar hujan berhenti. Tapi Tuhan membiarkannya tetap turun. Dan saya ikut dalam prosesi sampai akhir, melihat dengan mata kepala sendiri: anak-anak tidak mengeluh, orang tua tetap berjalan dalam dingin dan basah. Saya melihat iman yang luar biasa.”

Umat Larantuka telah membuktikan bahwa iman sejati tidak tumbuh dalam kenyamanan, melainkan dalam kesetiaan yang diuji oleh waktu dan cuaca.

Bunda Maria: Pendamping Setia Peziarah Iman

Bunda Maria, sebagai Mater Dolorosa, berjalan bersama umat dalam setiap langkah devosi. Di tengah hujan, air mata, dan doa, umat Larantuka meyakini bahwa Bunda Maria tidak pernah meninggalkan mereka. Ia adalah lambang kasih dan penghiburan surgawi yang senantiasa hadir dalam perjalanan iman.

“Mari kita bangkit bersama Maria, Alleluya! Kita adalah peziarah harapan, karena harapan dalam Kristus tidak mengecewakan.”

Tantangan Zaman: Iman di Tengah Digitalisasi

Bapa Uskup juga mengingatkan bahwa iman tradisi yang telah melewati ujian zaman, kini diuji kembali oleh arus teknologi dan digitalisasi. Namun, kita tidak perlu takut. Sebab iman yang hidup, yang telah dibuktikan dalam hujan dan angin, juga akan mampu bertahan dan bersinar di dunia maya, selama kita tetap berpaut pada Kristus dan Bunda Maria.

Penutup: Jadikan Setiap Hari sebagai Hari Bae

Semana Santa di Larantuka telah menjadi kesaksian bahwa kasih dan pengorbanan tidak pernah sia-sia. Namun, Jumat Agung bukanlah satu-satunya Hari Bae. Setiap hari bisa menjadi Hari Bae bila kita hidup dalam iman, kasih, pengampunan, dan pelayanan.

“Bersama Kristus yang bangkit dan Maria yang setia, kita melangkah dalam terang iman meski jalan masih basah oleh hujan, dan hati masih mengingat luka salib.”

Mari terus berdevosi, beriman, dan berbuat kasih. Sebab Paskah bukanlah akhir dari devosi, tetapi awal dari perutusan. Iman tanpa perbuatan adalah mati, tetapi iman yang dihidupi dalam kasih akan terus menyala, bahkan di tengah badai. Alleluya!*(Ell).