NTTKreatif.com, Tambolaka– Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sumba Barat Daya (SBD) menggelar aksi demonstrasi besar-besaran pada Rabu 17 Juni 2026.
Aksi ini berpusat Mapolres SBD, depan Gedung DPRD, dan depan Kantor Bupati SBD, dengan mengangkat isu kekerasan perempuan dan anak, isu pasir dan isu buruh migran dan buruh domestik.
GMNI Cabang SBD menyuarakan tuntutan tegas agar aparat kepolisian lebih tertib, progresif, dan transparan dalam menangani berbagai kasus hukum di Kabupaten Sumba Barat Daya.
Massa menilai kinerja kepolisian masih lamban, bahkan terkesan membiarkan sejumlah kasus mengendap tanpa penyelesaian yang jelas.
Dalam orasinya di hadapan aparat, salah satu kader perempuan GMNI SBD, Yumiati, mengkritik keras lambatnya respons kepolisian (kurang ‘gercep’) dalam menangani perkara hukum.
Ia menyoroti maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang kian meresahkan masyarakat.
“Perempuan dan anak adalah korban yang paling banyak di Kabupaten Sumba Barat Daya. Kekerasan dalam bentuk apa pun adalah kejahatan luar biasa yang melanggar Hak Asasi Manusia dan merusak masa depan generasi bangsa,” tegas Yumiati.
Ia membeberkan data advokasi lapangan yang dihimpun tim GMNI, angka kekerasan di SBD menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.
“Tahun 2025, tercatat sebanyak 56 kasus kekerasan perempuan dan anak. Sementara itu, Tahun 2026 sejak Januari–Mei sudah 26 kasus yang terjadi, padahal belum genap pertengahan tahun”, ungkapnya
Yumiati juga mempertanyakan kelanjutan kasus yang dikawal langsung oleh GMNI, yang hingga kini mandek tanpa kejelasan setelah proses pemanggilan saksi.


