“Selama di sana, saya hanya boleh ke gereja dua minggu sekali. Selebihnya, saya harus tetap di rumah karena takut tertangkap polisi Malaysia,” ujarnya.
Ia mengaku sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari majikannya dan kesulitan mendapatkan akses dasar seperti layanan kesehatan dan bantuan hukum.
Setelah memutuskan kembali ke kampung halaman dengan bantuan kerabat, Yohana membangun kehidupan baru. Bersama sejumlah perempuan di desanya, ia membentuk komunitas pengrajin yang diberi nama KANA.
Kini, komunitas KANA tidak hanya memproduksi berbagai kerajinan berbahan dasar daun lontar seperti tas dan topi, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi anak-anak dan remaja di desa mereka.
“Kami ingin warisan kerajinan ini terus hidup. Karena itu, saya juga mengajar anak-anak sekolah di kampung untuk belajar menganyam,” katanya.
Perpas XII Regio Nusa Tenggara tidak hanya menjadi ruang refleksi para gembala Gereja Katolik di kawasan ini, tetapi juga menjadi wadah bagi suara-suara dari akar rumput seperti Yohana—yang membawa cerita harapan dari balik luka migrasi.*(Ell)
|
