NTTKreatif.com, Larantuka — Pertemuan Pastoral (Perpas) XII Regio Nusa Tenggara resmi dibuka di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa (1/7/2025). Acara lima tahunan ini diawali dengan Misa pembukaan yang dipimpin Uskup Keuskupan Larantuka, Mgr Fransiskus Kopong Kung.
Hadir dalam pertemuan ini para uskup dari delapan keuskupan di wilayah Nusa Tenggara, bersama para delegasi masing-masing. Isu utama yang diangkat tahun ini adalah persoalan pekerja migran—sebuah topik yang kian relevan di tengah meningkatnya kasus migrasi nonprosedural dari kawasan ini.
Selama beberapa hari ke depan, para peserta akan mendalami berbagai dinamika yang dihadapi pekerja migran asal NTT, termasuk risiko human trafficking, eksploitasi, hingga upaya pemberdayaan pasca-kepulangan.
Di sela agenda utama, eks pekerja migran juga diberi ruang untuk terlibat aktif melalui stan-stan pameran UMKM yang digelar di depan Patris Corde Rusun Unio Keuskupan Larantuka, Salah satunya adalah Yohana Palan Koten, perempuan asal Desa Wulublolong, Kecamatan Solor Timur, Flores Timur.
Yohana, yang kini aktif sebagai pengrajin anyaman daun lontar, tampil sederhana namun penuh percaya diri di stan nomor 3. Ia menganyam sambil melayani pengunjung yang tertarik pada produk-produk kerajinannya.
“Saya senang bisa ambil bagian dalam acara sebesar ini. Terima kasih kepada Bapak Uskup, para pastor, biarawan-biarawati, dan panitia yang sudah memberi ruang bagi kami,” ujar Yohana, Selasa siang.
Kisah Yohana mencerminkan sisi lain dari isu pekerja migran yang sedang dibahas. Pada 1999, ia sempat menjadi pekerja migran nonprosedural di Malaysia selama 10 bulan. Pengalaman pahit sebagai pekerja tanpa dokumen lengkap itu masih ia ingat dengan jelas.
|
