NTTKreatif.com, Tambolaka – Bupati SBD, Ratu Wulla Talu menjadi sasaran kritikan dari massa aksi yang tergabung dalam organ Cipayung Plus (PMKRI, GMNI, dan GMKI) bersama BEM Unika Weetabula, dalam demo yang dilaksanakan di depan Kantor Bupati, Rabu, 10 September 2025 kemarin.

">

Menurut massa aksi yang hadir masih banyak persoalan yang terjadi di SBD namun pemerintah daerah dibawah kepimpinan Bupati SBD, Ratu Wulla Talu dinilai mereka tidak bekerja serius menuntaskan persoalan yang ada.

Bupati sebut mereka lebih banyak bermain Tiktok ketimbang fokus menyelesaikan masalah seperti ketiadaan pasir, masalah tapal batas hingga persoalan lainnya.

“Kami lihat ibu lebih banyak urus TikTok ketimbang urus masyarakat. Yang kami butuh itu pemimpin yang peka bukan sebaliknya,” kata Fren Ghogi dalam orasinya.

Hal yang sama pun disampaikan oleh orator lainnya, Marselinus Umbu Zaghil dalam orasinya. Dirinya menyayangkan sikap Bupati yang lebih mengurusi hal tidak penting dan terkesan mengabaikan suara rakyat dengan lebih banyak keluar daerah. Bahkan penegasan itu disampaikan melalui sebuah tulisan ‘Bupati TikTok’.

Menanggapi hal tersebut Bupati SBD, Ratu Wulla Talu secara tegas membantah tudingan massa aksi yang menyebut kalau dirinya tidak bekerja buat rakyat.

“Sebagai pemerintah kami harus membuat kebijakan yang berpihak kepada seluruh komponen masyarakat. Tidak hanya kepada mahasiswa ataupun masyarakat kecil tapi kepada seluruh masyarakat. Siapa pun yang datang pasti akan saya terima dan semua yang disampaikan akan kami catat untuk mengambil langkah-langkah,” katanya.

Dirinya menerangkan kendati baru menjabat 6 bulan 10 hari, sudah banyak hal yang pemerintah daerah lakukan dengan segala keterbatasan yang ada termasuk keterbatasan anggaran akibat efisiensi anggaran.

“Kenapa saya aktif di medsos, itu sebuah laporan saya kepada masyarakat termasuk di TikTok tentang apa yang sudah saya kerjakan. Saya bukan orang munafik, saya bukan Bupati yang munafik. Saya menunjukkan semuanya supaya semua tahu apa yang saya kerjakan. Kalau mau pencitraan bisa, mau muat yang baik-baik saja juga bisa. Tapi itu tidak saya lakukan,” katanya tegas.

Bupati Ratu melanjutkan sebagai Bupati dirinya juga manusia yang sisi lainnya pun harus diketahui publik dimana dirinya menggunakan TikTok hanya semenit.

“20 jam saya bekerja, 4 jam saya tidur, 1 menit saya TikTok, Apakah itu salah? Saya butuh refreshing, Saya butuh juga waktu otak saya tenang memikirkan rakyat 301 ribu masyarakat SBD dengan berbagai persoalan. Buat apa saya kasih tunjuk yang baik-baik ke kalian. Toh TikTok itu sarana legal untuk menyampaikan informasi. Dan silahkan cek di TikTok saya, apa yang saya lakukan,” ungkapnya lagi.

Selain itu, Bupati Ratu juga mengingatkan para pendemo untuk bisa menjaga etikanya saat berhadapan dengan Bupati dan Pemerintah. Hal tersebut ungkapnya penting karena Bupati juga rakyat biasa yang perlu juga dihargai.

“Saya tidak takut. Kalau kalian datang dengan etika, saya akan sambut juga dengan etika. Kalau bicara kegelisahan sama, saya juga gelisah tapi kita kerja dalam aturan dan butuh proses. Tidak semudah kita membalikkan telapak tangan, hari ini bicara besok jadi. Ada batasan kewenangan yang harus dipatuhi. Andai saya diberi kewenangan penuh, maka hari ini saya akan ambil kebijakan itu. Tapi apakah saya harus melanggar aturan hukum, oh tentu tidak. Saya harus taat pada hukum,” katanya tegas. ***

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625