NTTKreatif, Sikka – Dengan semangat kemandirian, Desa Lewomada di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, bakal menggelar festival budaya bertajuk Pesona Lewomada selama tiga hari berturut-turut, mulai 9 hingga 11 Juli 2025. Festival ini digagas dalam rangka perayaan ulang tahun desa yang ke-25 tahun.

Menariknya, meski bakal digelar secara meriah, festival ini tidak ditopang oleh anggaran besar. Dana yang digunakan bahkan tidak mencapai Rp200 juta, dan sebagian besar didukung melalui swadaya masyarakat setempat.

">

“Kegiatan ini murni hasil kerja sama antara pemerintah desa, BPD dan masyarakat. Banyak yang terlibat secara sukarela karena semangat kebersamaan membangun Lewomada,” kata Kepala Desa Lewomada, Dominikus Pondeng, kepada NTTKreatif, Senin (16/6).

Rangkaian acara akan dipusatkan di Lapangan Sepak Bola SDK Bokang, yang disulap menjadi panggung hiburan dan ruang temu budaya selama festival berlangsung. Warga dari berbagai kalangan telah bersiap untuk menyukseskan agenda tahunan ini.

Panggung hiburan Pesona Lewomada akan menampilkan ragam pertunjukan musik dan tarian tradisional. Sejumlah grup band lokal dan sanggar budaya dari Kabupaten Sikka dan Flores Timur akan ambil bagian dalam meramaikan suasana.

“Ada penampilan dari grup HIP-HOP LHC Lembata, DJ Dilly Ruff, Calipso, Orkes Satu Sikka, dan beberapa sanggar budaya lainnya. Mereka akan tampil selama tiga hari penuh di panggung hiburan kita,” ujar Dominikus Pondeng.

Tak hanya hiburan, festival ini juga menjadi ajang promosi potensi wisata desa yang belum banyak dikenal publik. Lewomada memiliki sejumlah spot alam yang menarik untuk dikunjungi, mulai dari perbukitan hingga kawasan kebun rakyat.

Dominikus menjelaskan, salah satu tujuan utama dari festival ini adalah mendorong geliat ekonomi lokal melalui promosi pariwisata.

“Kami ingin memperkenalkan destinasi wisata di Lewomada. Jika orang datang dan tahu tempat ini, otomatis roda ekonomi warga juga akan bergerak,” ungkapnya.

Meski keterbatasan dana menjadi tantangan tersendiri, semangat warga Lewomada tetap menyala. Gotong royong menjadi kunci dalam mewujudkan festival ini tanpa harus mengandalkan dana besar dari luar.

Pemerintah desa juga berharap, kegiatan ini bisa menjadi agenda rutin tahunan yang lebih terencana dan didukung oleh lebih banyak pihak di masa mendatang, termasuk dari sektor swasta dan pemerintah daerah.

“Ini langkah awal. Ke depan kami berharap bisa lebih besar, lebih meriah, dan berdampak lebih luas bagi masyarakat Lewomada,” pungkas Dominikus.*(Ell).

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625