Pada hari Senin tanggal 22 Juli 2024 yang lalu, suasana dan aktivitas masyarakat di seputaran Kota Waikabubak atau kota yang dikenal dengan julukan “Pada Eweta Mandaelu” nampaknya mulai ramai.
Di saat yang sama saya pun meluangkan waktu untuk pulang berlibur, pulang ke almamater. Sudah sekian lama saya meninggalkan almamater dan pada saat itu saya mau kembali bernostalgia mengenai Ibu yang pernah membesarkan saya.
Saya terus melangkah memasuki pelataran almamater. Tanpa direncanakan, saya bertemu dengan dua orang wali kelas saya saat itu. Bapak Franky Dhay Dje (Wali Kelas X) dan Mama Susan Ndapamerang (Wali Kelas XII), dua sosok yang memiliki peran penting bagi saya. Keduanya masih seperti yang dulu bersahaja, rendah hati dan ramah disertai dengan senyuman khas mereka.
Selain kedua wali kelas, saya juga berkesempatan bertemu dengan guru matematika, yaitu Mama Karni Riberu. Hal menarik dari sosok guru ini adalah ingatannya yang kuat akan kemampuan ilmu matematika saya.
“Apakah di Perguruan Tinggi dapat Matematika?” Ujar Mama Karni. Pertanyaan ini mengingatkan kembali akan kemampuan ilmu matematika saya saat itu. Saya sadar bahwa saya memiliki kemampuan yang relatif kurang pada bidang ini. Tapi, usaha yang sungguh dan pendampingan yang penuh kasih membuat saya melewati rintangan ini. Tidak ada yang mustahil bagi setiap orang yang mau bekerja keras.
Tahun 2022 adalah tahun terakhir keberadaan saya di Lembaga Pendidikan SMAS Kristen Waikabubak. Tanpa terasa waktu bergulir begitu cepat 3 tahun berlalu saya ditempa, dibentuk menjadi pribadi remaja belia yang matang dan saya bangga mengenakan seragam putih abu kala itu. Bersama teman-teman sebaya kami mengalami sukacita melewati masa-masa sweet seventeen. Secara natural kami bertumbuh menjadi pribadi yang matang, baik biologis, emosional maupun intelektual. Hingga titik ini saya ingin mengatakan bahwa saya telah menerima banyak hal dari lembaga pendidikan ini.
Dalam rentan waktu 3 tahun terakhir, saya menemukan SMAS Kristen Waikbubak telah berkembang sangat pesat dalam bidang kurikuler dan ekstrakurikuler. Saya sangat mengapresiasi perkembangan yang ada. Almamater tampil dengan wajah yang semakin bersinar.
Ora et Labora
SMAS Kristen Waikabubak itulah nama lembaga pendidikan Kristen yang telah mengasuh, mengasah dan mengasihi diri saya menjadi seperti saat ini.
Saya sungguh berbangga bahwa saya pernah mengalami jamahan kasih dan tetesan ilmu pengetahuan di sini. Di atas landasan motto “Takut akan Tuhan adalah Permulaan Pengetahuan”.
Almamater menunaikan tugas perutusannya untuk mencerdaskan tunas-tunas muda harapan bangsa dan murid-murid Kristus sejati. Perjalanan SMAS Kristen Waikabubak sampai saat ini telah melampaui sejarah yang panjang dalam suka dan duka, sukses dan gagal.
Berpijak pada motto di atas, SMAS Kristen Waikabubak selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada anak didiknya. Motto di atas menjadi landasan usaha setiap komponen baik itu pendidik, peserta didik maupun tenaga kependidikan dalam mengawali dan mengakhiri setiap aktivitas dengan bersujud sembah di hadapan Tuhan untuk menimba kekuatan. Di sini adagium klasik “Ora et Labora” sungguh menjadi dasar setiap perjuangan. Kerja yang tekun mesti dilandasi kekuatan doa yang tulus atau sebaliknya doa penuh harapan mesti ditopang oleh usaha dan karya yang sungguh.
Intelek Terasah, Karakter Terbentuk
Ada hal penting yang tidak dapat saya lupakan manakala saya melangkah pulang ke almamater. Saya terkenang kembali akan metode pendidikan, pembinaan dan pembentukan yang diterapkan oleh Bapak/Ibu guru saat itu. Satu hal menarik yang rasanya tidak bisa ditemukan di tempat lain ketika kami menyapa para guru dengan sapaan “Bapa dan Mama” sapaan ini memiliki kekuatan yang dalam karena rasanya tidak ada jarak antara pendidik dan peserta didik; yang ada hanyalah orang tua dan anak. Suasana seperti ini memiliki nilai plus di satu sisi sapaan “Bapa Mama” membuat kami merasakan kasih sayang seorang Bapa dan Mama yang sekaligus menjadi motivasi untuk semangat belajar.
Di sisi lain karakter kami dibentuk. Pendekatan yang digunakan oleh Bapak/Ibu guru dalam mendidik dan membina kami adalah pendekatan hati. Pendekatan ini memberi ruang seluas-luasnya kepada kami untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang matang baik dalam aspek intlektual maupun aspek kepribadian. Nilai-nilai kedisiplinan dan ketaatan sangat diperhatikan. Cara-cara yang digunakan sangat bijaksana seperti dikatakan pepatah Latin “Fortiter in re suaviter in modo” yang artinya teguh dalam prinsip luwes dalam cara. Model pendekatan seperti inilah yang harus diperhatikan dalam pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda.
Demikian sepenggal kenangan liburan kali ini, ketika saya melangkah pulang ke almamater. Kisah-kisah masa lalu yang telah membentuk diri saya hari ini tidak bisa dilewatkan begitu saja. Biarlah catatan dan dokumentasi sederhana ini menjadi kenangan bagi alumni SMAS Kristen Waikabubak di mana saja berada. Terima kasih almamater. Jaya selalu. Tuhan Yesus Memberkati.
Salam Hangat,
Oleh : Sintia Bili (Alumni SMAS Kristen Waikabubak_Angkatan 2022)
|

Tinggalkan Balasan