Maklum sejak 18 tahun berdiri, banyak masyarakat SBD butuh tempat semacam ini untuk mengusir suntuk, bercengkrama dengan kerabat sembari mendengar deru kendaraan yang melintas ataupun aktivitas lainnya.

Representasi ‘Menata Kota’

">

Penataan alun-alun ini pun menjadi penegas buat masyarakat, kalau sampai sekarang, kepemimpinan Ratu-Angga tidak pernah melupakan slogan pembangunan yang mereka sebut dengan Membangun Desa, Menata Kota.

Kendati sederhana, slogan ini nyatanya memberikan dampak luar biasa bagi pembangunan daerah. Hal yang mungkin dirasakan keduanya.

Sehingga penting baginya keduanya membuktikan kalau slogan tersebut tidak hanya jadi konsep semata namun harus diimplementasikan lebih serius secara bertahap untuk menyiapkan Sumba Barat Daya sebagai salah satu destinasi unggulan wisata di NTT ke depan setelah Labuan Bajo sebagaimana agidium yang selalu didengungkan Bali Masa Lalu, Labuan Bajo Masa Kini dan Sumba Masa Depan.

Salah satunya dengan menata kota yang jadi representasi Sumba Barat Daya. Penataan yang tidak hanya dengan menempatkan orang di bangunan yang sudah disiapkan tapi juga menyasar pada perubahan sikap manusia itu sendiri seperti mendesak warga untuk mulai tertib dan menjaga kebersihan di lingkungan sekitarnya.

Hal yang tidak semua paham jika semuanya dilihat dari sisi yang berbeda. Ini bukan soal untung rugi. Ini soal daerah dengan era baru yang lebih menyala.

Sehingga tulisan ini adalah kredit khusus buat Bupati dan Wakil Bupati SBD yang sudah mengajarkan masyarakat dengan caranya yang paling paripurna bukan dengan kata-kata tapi tindakan di tengah hiruk pikuk kritikan yang perlahan berbuah pujian. ***

 

 

 

 

 

 

 

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625