NTTKreatif.com, Tambolaka – Guru SDN Gollu Uta sekaligus PJ Kades Lolo Ole, Remigius Tana Laka akhirnya buka suara usai namanya disebut Bupati SBD, Ratu Ngadu Bonnu Wulla usai sidak di Dinas Pendidikan SBD belum lama ini.

Remigius Tana Laka adalah salah satu guru di SBD yang tunjangan guru terpencilnya dipersulit oleh Dinas Pendidikan SBD yang kemudian mematik reaksi keras Bupati SBD hingga membuat videonya viral di jagat dunia maya.

">

Setelah cukup lama diam, Ramigius pun akhirnya muncul dan menceritakan masalah yang menderanya tersebut. Baginya ini bukan soal perjuangannya pribadi namun perjuangan guru yang selama ini belum berani bersuara di tengah ketidakadilan yang mereka alami.

Secara gamblang diakui Remigius kalau dirinya memang diberi tugas tambahan sebagai Pj Kades di Desa Lolo Ole, Kecamatan Wewewa Barat tertanggal 22 Maret 2024 lalu namun hal tersebut tidak membuatnya lupa akan tugas utamanya sebagai guru di SDN Gollu Utta.

Tidak heran jika kemudian dirinya menjalankan tugas tersebut dengan membagi waktunya sedemikian rupa mengingat sebelumnya dirinya masih mendapatkan tunjangan khusus guru terpencil periode Januari hingga Juni 2024. Persoalannya baru muncul setelah pengajuan berkas oleh Kepsek SDN Gollu Utta di triwulan terakhir Oktober, November dan Desember mendapatkan penolakan dari Dinas Pendidikan.

“Ditolak oleh Ibu Ketti dan saat ditanya oleh Kepsek, dirinya menyebut kalau ada laporan masyarakat Menne Ate kalau saya tidak aktif mengajar. Hal itupun sempat dibalas Kepsek dengan mengatakan kalau saya masih aktif mengajar karena seyogianya jadi Pj Kades itu kan tugas tambahan bukan tugas pokok dan itu dibuktikan dengan absen. Sehingga Pak Kepsek pulang kasih kembali berkas ke saya,” katanya.

Kondisi itu membuat, dirinya pun kemudian kembali ke Dinas untuk bertemu dengan Ketti dan mendapatkan jawaban yang sama. Namun ketika diberi penjelasan soal status dirinya di sekolah, Ketti pun langsung memberikan alasan kalau datanya bermasalah padahal sebelumnya dengan data yang sama ia pakai untuk pengajuan guna mendapatkan tunjangan itu.

“Katanya saya punya nama tidak ada dalam nominasi tunjangan. Saat saya tanya kesalahan dimana beliau bilang saya tidak tahu. Setelah itu, saya minta bantuan Kepsek untuk kembali ketemu dengan Ibu Ketti dan di sana baru ditemukan kalau nama saya sudah digantikan oleh orang lain yang juga guru titipan di sekolah kami yakni, Antonius Nusa. Sedangkan di satu sisi di sekolah kami ada 4 guru titipan tapi kenapa hanya Antonius yang lolos sedangkan yang lain tidak? Apalagi dari data yang ada itu 4 guru itu nol jam tapi tiba-tiba muncul Antonius yang punya 6 jam di berkas itu. Tapi kembali Ibu Ketti selalu jawab tidak tahu,” ungkapnya heran.

Karena tidak menemui hasil, dirinya pun kemudian bertemu kembali dengan Ketti di Dinas Pendidikan untuk menanyakan hal ihwal persoalan tersebut sekaligus mempertanyakan soal nama pengganti dirinya.

“Saya sempat omong ke Ibu Ketti kalau memang nama saya tidak ada iya sampaikan bukan kemudian bilang berkas tidak lengkap, absenlah sampai dengan masukan masyarakatlah begitu. Saya masih beri penjelasan juga cuma tidak digubris hanya bilang tidak tahu dan dapat data dari Kementerian sehingga saya adukan ke Sekdis waktu itu pak Iksan dan langsung ditanya ke Pak Marsi soal data saya, dan di situ disebut kalau data saya lengkap. Sehingga saya kembali lagi ke Ibu Ketti dan dapat jawaban yang sama tidak tahu termasuk saat saya tanya siapa yang kasih masuk nama Pak Antonius sedang di data operator nol jam pak Antonius tidak berubah sama sekali dan tidak pernah diajukan oleh sekolah,” tambahnya.

Masuk di tahun 2025 di pemberkasan di bulan Januari, Februari dan Maret, dirinya kembali mengajukan berkasnya namun sekali lagi dirinya tidak mendapatkan lagi tunjangan tersebut. Sehingga dirinya kemudian mengadukan persoalan tersebut kepada Bupati SBD hingga kemudian diarahkan ke Sekdis Pendidikan.

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625