Oleh: Crispaskal Marko Peka

Nusa Tenggara Timur dengan pulau-pulau menawannya dan keragaman budayanya, sering kali disebut sebagai surga dari timur Indonesia. Dari puncak gunung berapi yang tenang di Flores sampai pesona bawah laut Alor yang
luar biasa, provinsi ini memancarkan daya tarik yang sulit ditandingi.

Namun, di balik keindahan pemandangan savana dan laut biru, terdapat kenyataan yang tidak begitu indah seperti tampaknya karena NTT ternyata kental dengan kesenjangan sosial yang begitu mencolok. Bagaimana tidak, perbedaan antara mereka yang memiliki akses dan yang tidak serta antara si kaya dan si miskin menjadi tantangan mendalam yang mengintai dan menghalangi potensi penuh masyarakat NTT.

">

Mengatasi masalah kesenjangan ini juga nyatanya memerlukan pemahaman yang lebih dalam tentang sumber permasalahannya sekaligus mendesak dengan perlunya rencana konkret untuk mencapai perubahan yang berkelanjutan.

Pasalnya, akar kesenjangan sosial di NTT begitu kompleks dan memiliki banyak aspek yang saling berhubungan dan memperkuat satu sama lain, sehingga membentuk jaringan yang rumit dan sulit untuk dipahami.

Dan berikut, penulis mencoba mengurai kesejangan sosial tersebut dalam beberapa poin penting dengan harapan kesenjangan sosial ini nantinya bisa diurai dengan baik guna memperkuat kekuatan membangun NTT.

1. Kondisi geografis dan infrastruktur yang kurang

Kondisi geografis dan infrastruktur yang kurang menjadi hambatan utama yang tak bisa diabaikan.Bentang alam pegunungan yang curam dan pulau-pulau yang tersebar luas ternyata menyulitkan pembangunan jalan yang memadai, penyediaan listrik yang merata, serta jaringan telekomunikasi yang cukup.

Hal tersebut dapat dijumpai di desa-desa pada daerah terpencil seperti Timor, Sumba, atau Manggarai yang masih terpinggirkan dimana akses jalan hanya memungkinkan untuk kendaraan tertentu, atau bahkan hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki selama berjam-jam.

Hal yang sama jkuga terjadi pada pendidikan dan kesehatan yang hingga kini pun belum mendapat sentuhan yang baik yang berakibat pada kesenjangan sosial yang begitu lebar. Begitupun dengan akses pasar yang seyogianya sulit dinikmati oleh mereka yang tinggal di daerah terpencil seperti yang dinyatakan oleh ekonom dan filsuf pemenang Nobel, Amartya Sen yang menyebut kalau ketidakbebasan substantif tercipta karena kurangnya akses terhadap pendidikan atau layanan kesehatan yang secara langsung membatasi kemampuan individu untuk mencapai potensi penuh mereka, untuk menjadi dan melakukan apa yang mereka hargai.

Di NTT, hambatan geografis ini secara efektif menciptakan dan mempertahankan ketidakbebasan tersebut, menjebak sebagian besar penduduk dalam keadaan keterbatasan sistemik.

2. Kurangnya Sumber Daya Manusia dan Rendahnya Mutu Pendidikan

Kurangnya SDM dan rendahnya pendidikan memperburuk keadaan yang ada. Di banyak sekolah di daerah terpencil masih terjadi kekurangan tenaga pengajar berkualitas yang memiliki dedikasi dan kemampuan yang cukup, bahkan kebutuhan dasar seperti buku pelajaran, bangku, atau fasilitas sanitasi pun nyaris tidak ada.

Kurikulum yang biasanya terlalu terpusat dan tidak sesuai dengan kebutuhan atau potensi lokal menjadikan lulusan kesulitan dalam bersaing di pasar kerja yang semakin ketat. Anak-anak yang seharusnya menjadi harapan di masa depan, seringkali terpaksa berhenti sekolah atau hanya mendapatkan pendidikan yang minim.

Hal ini menciptakan siklus kemiskinan yang sulit untuk diputus antar-generasi. Jika anak-anak tidak menerima pendidikan yang baik, kemungkinan mereka untuk keluar dari kemiskinan menjadi sangat kecil.

Tokoh pendidikan dan filsuf asal Brasil, Paolo Freire menegaskan bahwa pendidikan yang sejati adalah proses pembebasan yang mana bisa memberi kesempatan pada individu untuk berpikir kritis terhadap realitas sosial dan bertindak untuk melakukan perubahan.

Sayangnya, di banyak wilayah NTT, pendidikan belum sepenuhnya berfungsi sebagai alat pembebasan malah kerap kali memperkuat ketidakadilan yang ada.

3. Ekonomi yang Belum Merata

Ekonomi yang belum mencakup semua lapisan masyarakat dan ketergantungan pada sektor primer yang mudah terpengaruh menjadi penyebab kesenjangan lain. Sebagian besar penduduk NTT mengandalkan pertanian yang
bergantung pada hujan yang mudah terancam oleh kekeringan berkepanjangan atau perikanan kecil menggunakan alat tangkap tradisional.

Mereka sangat terpengaruh oleh perubahan iklim yang ekstrem dan perubahan harga komoditas global yang di luar kendali mereka. Ketidakberagaman dalam ekonomi dan rendahnya investasi di sektor pengolahan yang bisa menambah nilai seperti kopi, rumput laut, atau ikan serta industri kreatif menyebabkan nilai tambah ekonomi tetap rendah dan tidak terdistribusi secara merata.

Selain itu, praktik ekonomi yang dikuasai oleh sejumlah kecil individu, seringkali berasal dari luar daerah mengakibatkan keuntungan ekonomi tidak kembali ke masyarakat lokal dengan baik.

Dari sudut pandang teologi pembebasan, seperti yang dijelaskan oleh teolog Peru Gustavo Gutiérrez, kesenjangan ekonomi ini merupakan cermin dari dosa struktural, di mana sistem yang ada secara mendasar menindas, meminggirkan, dan mengeksploitasi kelompok yang rentan demi keuntungan segelintir orang.

4. Pengelolaan Pemerintahan dan Kebijakan yang Belum Berjalan dengan Baik

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625