NTTKreatif, Larantuka — Warga Kota Larantuka dalam beberapa pekan terakhir mengeluhkan kelangkaan minyak tanah. Kondisi ini diduga kuat dipicu oleh maraknya praktik mafia Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis minyak tanah di sejumlah pangkalan resmi.
Modus operandi para oknum tersebut adalah membeli minyak tanah dalam jumlah besar di pangkalan untuk menguras stok, lalu menjualnya kembali dengan harga tinggi, mencapai Rp8.000 hingga Rp10.000 per liter—jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Kepala Badan Sumber Daya Alam (SDA) Setda Flores Timur, Tarsisius Kopong Pirang, membenarkan adanya indikasi permainan kotor dalam distribusi minyak tanah saat di konfirmasi sejumlah wartawan pada Rabu (14/05/2025).
“Kami sudah lakukan pengecekan langsung ke beberapa pangkalan dan menemukan praktik semacam ini. Sudah diberikan peringatan lisan kepada pemilik pangkalan, dan jika masih berlanjut, izin pangkalan akan dicabut,” tegasnya.
Menurut Tarsisius, jumlah pangkalan minyak tanah di Kota Larantuka mencapai 135 titik. Setiap pangkalan mendapatkan jatah distribusi dua kali dalam sebulan, dengan jumlah yang disesuaikan berdasarkan data jumlah penduduk di masing-masing wilayah. Oleh karena itu, ia menilai kelangkaan tidak seharusnya terjadi jika distribusi berjalan normal.
“Kelangkaan ini akibat ulah oknum yang ingin memperkaya diri. Selain itu, distribusi minyak tanah hanya boleh dilakukan langsung dari agen ke pangkalan, dan dari pangkalan ke masyarakat. Tidak diperbolehkan adanya pengecer di luar jalur resmi,” lanjutnya.
|
