NTTKreatif, LARANTUKA – Ironi pariwisata kembali menyentil Pemerintah Kabupaten Flores Timur. Objek wisata pemandian air panas alami Waiplatin di Desa Mokantarak, Kecamatan Larantuka, kini terlihat semakin memprihatinkan—kumuh, sepi pengunjung, dan nyaris tanpa sentuhan event promosi.
Dampaknya? Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari destinasi strategis ini hanya menyumbang Rp 900 ribu per bulan. Jumlah yang sungguh menyedihkan jika dibandingkan dengan potensi alamnya yang luar biasa.
“Rp 900 ribu satu bulan. Kami di sini ada tiga orang, semua dari Nagi Explorer,” ungkap Valeria Hurit, petugas karcis di lokasi, Jumat 4 April 2024.
Lebih memilukan lagi, seluruh pendapatan itu hanya cukup untuk membayar upah tiga petugas—masing-masing Rp 300 ribu per bulan. Tidak ada anggaran untuk pemeliharaan, tidak ada untuk pengembangan fasilitas. Semuanya disetor ke Dinas Pariwisata.
Padahal, sejak 2023, destinasi ini dikelola dengan skema Kerjasama Operasional (KSO) antara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flotim dan pihak ketiga. Namun, fakta di lapangan menunjukkan, skema ini gagal total mengangkat pamor Waiplatin.
|
