NTTKreatif, LARANTUKA – Jam menunjukkan pukul 09.00 WITA, saat kendaraan roda dua yang membawa saya bersama dua rekan jurnalis, Elton Nggiri (Garuda TV) dan Yurgo Purab (Detik.com) meninggalkan kota Larantuka.
Tujuan kami bertiga adalah memasuki daerah terlarang di sekitaran Gunung Lewotobi, di Kecamatan Wulanggitang yang belakangan hancur akibat erupsi hebat sejak tanggal 3 November 2024 lalu.
Tidak ada perasaan apa pun yang terlintas di benak kami. Yang ada hanya rasa penasaran.
Maklum sudah cukup lama kami bertiga tidak lagi masuk ke wilayah tersebut untuk melihat lebih dekat kondisi kekiniannya.
Deru kendaraan bergemuruh membelah aspal hitam yang mulai memanas akibat terpaan matahari, dengan cuaca yang terbilang cerah dibarengi dengan cerita-cerita ringan membuat perjalanan kami kali ini jauh lebih fresh.
Sial, belum setengah jalan kami bertiga dihantam hujan deras.
Sempat berteduh beberapa kali, kami pun memutuskan menlanjutkan perjalanan kami walaupun dalam kondisi basah kuyup.
“Biar baju kering di badan saja e kaka,” kata Yurgo menunggu persetujuan dari saya.
Saya pun menganggukkan kepala tanda setuju sembari menaiki kendaraan yang saya tumpangi.
Perjalanan kami pun dilanjutkan hingga berhenti sebentar di hutan dekat wilayah Eputobi sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan kami ke wilayah terdampak yang sudah kami sepakati bersama.
Memasuki wilayah Nobo, wajah Gunung Lewotobi pun mulai nampak jelas kendati masih diselimuti awan hitam di sekitarnya.
Hutan yang dulu hijau dengan pepohonan kini menyisahkan pohon kering tanpa daun dengan sekitarnya dipenuhi batu dan kerikil.
Tebing yang sebelumnya tidak terlihat mulai terlihat jelas tanpa ada yang menghalangi.
“Kaka, aman toh masuk lokasi ini,” sergah Yurgo lagi memecah konsentrasi kala itu.
“Aman, selagi kita pergi untuk tujuan baik,” ungkapku lirih walaupun ada rasa gugup yang menyelemuti sembari memasuki kampung pertama Dulipali yang kelihatan sepi tak bertuan.
Bau Belerang Menyengat
Bau belerang tajam pun menyambut kami kala memasuki desa yang jalanan sudah dipenuhi material bekas erupsi yang mulai membatu.
Kiri kanan rumah-rumah warga terlihat memutih bahkan di atapnya material masih memenuhi seng tanpa terurus dengan baik.
Kondisi tersebut pun terlihat saat memasuki wilayah Hokeng Jaya.
Rumah-rumah yang dahulu berdiri kokoh perlahan mulai roboh. Begitupun dengan beberapa pohon termasuk pohon kopi yang berjejer di sepanjang jalan sudah tidak mampu menahan panasnya lava pijar saat erupsi hingga terjerembab jatuh menyentuh tanah.
Begitupun dengan fasilitas lainnya yang dahulu begitu terkenal seperti Seminari Hokeng dan PT Rerolara tidak seindah dulu. Semuanya hilang dalam sekejap.
Pemandangan yang kontras memang. Bahkan jauh dari kondisi awal saat kami berada di tempat itu sekian tahun silam.
Jejak kaki dan kenangan itu luluh lantak dalam sekejap.
Apalagi saat kami melihat kondisi Gunung Lewotobi laki-laki dari sisi barat yang aliran lavanya memang membelah bukit kecil hingga sebentar lagi memasuki areal pemukiman warga.
Miris dan menyakitkan memang namun demikianlah kondisinya saat ini. Semua luluh lantak dihantam material erupsi Gunung Lewotobi.
Kondisi hampir serupa pun terlihat saat kami memasuki wilayah Boru dan menelisik kondisi di sekitarnya.
|
