NTTKreatif, TAMBOLAKA – Stunting menjadi salah satu persoalan serius Provinsi NTT sejak beberapa tahun belakangan.
Hal ini tidak lepas dari angka stunting NTT yang terbilang cukup tinggi.
Berdasarkan Data Stunting NTT Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Kemenkes RI tahun 2023, angka stunting di NTT menyentuh angka 37,9 persen.
Sedang untuk Survei Status Gizi (SSGI) tahun 2023, angka stunting NTT mencapai angka 35,3 persen.
Angka tersebut naik 2,6 persen dari survei sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat NTT menjadi provinsi dengan prevalensi tertinggi di Indonesia.
Menariknya, angka stunting tersebut berbanding lurus dengan kondisi di beberapa Kabupaten di Provinsi NTT salah satunya Kabupaten Sumba Barat Daya yang dari data SKI 2023 prevalensi stunting mencapai angka 44,3. Jauh dari target secara NTT, 24,8 persen.
Tidak mengherankan, jika sejak beberapa tahun belakangan BKKBN Provinsi NTT bersama mitranya Anggota DPR RI, Ratu Wulla Talu begitu intens melakukan Kampanye Percepatan Penurunan Stunting di berbagai wilayah di Kabupaten Sumba Barat Daya.
Dalam setiap kampanyenya tersebut, politisi Partai NasDem tersebut selalu mengingatkan tentang bahaya stunting buat masa depan anak-anak Sumba dan NTT.
Pasalnya, kondisi stunting bisa membuat perkembangan otak dan tubuh anak tidak berjalan normal dan cenderung lambat dalam berpikir.
Padahal di satu sisi, Pemeritah katanya berusaha untuk meminimalisir stunting untuk menciptakan anak-anak Indonesia yang hebat.
|

Tinggalkan Balasan