Beberapa teknik pengolahan daging, seperti pengeringan atau pengasapan pada suhu rendah, juga tidak cukup untuk membunuh virus.

Hal ini memungkinkan virus ASF tetap bertahan dalam produk daging babi yang telah diproses, yang meningkatkan potensi penyebaran penyakit.

">

3. Kemampuan Bertahan dalam Daging yang Disimpan dalam Waktu Lama

Virus ASF juga dapat bertahan lama dalam daging babi yang disimpan dalam waktu lama, baik dalam kondisi dingin maupun beku.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa virus ini tetap dapat hidup dalam daging beku selama berbulan-bulan tanpa mengalami penurunan jumlah virus yang signifikan.

Ketahanan ini menjelaskan mengapa produk daging babi yang berasal dari babi terinfeksi bisa menjadi salah satu sumber penularan virus ke babi-babi sehat.

4. Penularan Melalui Produk Daging yang Tidak Terolah dengan Benar

Salah satu cara penyebaran virus ASF adalah melalui peredaran produk daging babi yang terkontaminasi.

Jika produk daging babi yang berasal dari babi yang terinfeksi tidak terolah dengan baik atau diproses dengan cara yang salah, virus ASF dapat ditularkan ke babi sehat, baik melalui konsumsi langsung maupun melalui produk yang terkontaminasi.

Hal ini menjadi tantangan besar bagi pengawasan dan kontrol penyebaran ASF.

5. Protokol Pengendalian yang Perlu Diperketat

Mengingat ketahanan virus ASF dalam daging babi, penting bagi negara-negara yang terinfeksi untuk memperketat kontrol terhadap perdagangan produk daging babi.

Pemeriksaan ketat terhadap produk daging impor dan ekspor, serta penerapan protokol sanitasi yang ketat di setiap tahap produksi dan distribusi, sangat penting untuk mencegah penyebaran virus ASF.

Selain itu, edukasi kepada peternak dan konsumen mengenai cara pengolahan dan penyimpanan daging yang benar juga sangat diperlukan untuk mengurangi risiko penularan.***

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625