NTTKreatif.com – Bagi populasi babi, Virus Demam Babi Afrika (ASF) atau African Swine Fever adalah virus yang sangat berbahaya.
Virus ini dapat menyebabkan kematian yang hampir 100% pada babi yang terinfeksi, sehingga menimbulkan dampak besar bagi peternak.
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa virus ASF bisa bertahan dalam daging babi? Bagaimana hal ini dapat memengaruhi penyebaran penyakit?
Berikut adalah faktor-faktor yang memungkinkan virus ASF bertahan dalam daging babi.
1. Ketahanan Virus ASF di Lingkungan Eksternal
Salah satu sifat unik dari virus ASF adalah ketahanannya yang sangat tinggi di luar tubuh babi.
Virus ini tidak mudah rusak oleh kondisi lingkungan yang ekstrem, seperti suhu tinggi atau rendah.
Bahkan, virus ASF dapat bertahan hidup dalam daging babi yang sudah dipotong dan diproses dalam jangka waktu yang lama.
Dalam daging babi yang disembelih, virus ASF dapat tetap hidup meskipun daging tersebut telah didinginkan atau diawetkan melalui proses pengeringan, pengasinan, atau pengasapan.
Hal ini terjadi karena virus ASF memiliki lapisan protein yang melindunginya dari kerusakan yang disebabkan oleh suhu rendah atau tinggi.
2. Ketahanan terhadap Pengolahan Makanan
Proses pengolahan makanan seperti pemasakan atau pengasapan tidak selalu efektif dalam membunuh virus ASF.
Penelitian menunjukkan bahwa suhu yang diperlukan untuk membunuh virus ASF sangat tinggi, lebih tinggi dari yang umumnya dicapai dalam pemasakan biasa.
Proses pemanasan pada suhu rendah atau pengolahan yang tidak mencapai suhu tertentu bisa menyebabkan virus tetap bertahan dalam daging.
|
