Pertanyaan itu belum sempat terjawab ketika kejanggalan berikutnya muncul.

Sekitar 20 menit setelah awak media meninggalkan Mapolres Flores Timur, beredar informasi bahwa sopir beserta barang bukti rokok ilegal telah dilepaskan. Informasi tersebut awalnya terdengar seperti kabar burung—namun tak butuh waktu lama untuk berubah menjadi fakta.

">

Saat dikonfirmasi, Evan membenarkan bahwa dirinya bersama rokok ilegal tersebut telah dibebaskan.

Ia bahkan menyebut pembebasan itu terjadi setelah adanya komunikasi langsung antara bos pemilik rokok dengan Kasat Reskrim Polres Flores Timur.

“Tadi Koko (bos) ada telepon dengan bapak Kasat, lalu bapak Kasat suruh kami keluar,” ungkap Evan.

Di titik inilah publik mulai bertanya dengan nada yang lebih serius: bagaimana mungkin barang bukti rokok ilegal tanpa pita cukai—yang diamankan secara terbuka dan disaksikan media—dilepaskan begitu saja?

Jika benar pelepasan itu hanya melalui komunikasi via telepon, maka di mana posisi prosedur hukum? Di mana peran Bea Cukai? Dan siapa yang menjamin bahwa praktik serupa tidak terus berulang?

Kasus ini tak lagi semata soal rokok ilegal. Ia menjelma menjadi ujian integritas aparat penegak hukum di Flores Timur. Ujian tentang konsistensi antara tindakan di lapangan dan keputusan di balik meja.

Publik kini menunggu jawaban resmi dan terbuka dari Polres Flores Timur:berdiri tegak di atas hukum, atau kompromi di balik layar?* (Ell).

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625