Mendengar cerita sang istri, Anton mengaku menarik napas panjang. Baginya, mempertahankan tenaga kontrak adalah bagian dari tanggung jawab sebagai bupati kala itu.
Ia mengingat kembali masa ketika harus mengambil keputusan sulit: tetap mempertahankan ratusan tenaga kesehatan, guru, petugas kebersihan, hingga pegawai perkantoran. Padahal, keputusan itu sering mengundang teguran bahkan ancaman dari pemerintah pusat.
“Ketika banyak daerah memberhentikan tenaga kontraknya, saya memilih jalan berbeda,” tulis Anton.
Ia juga menyebut pernah menandatangani komitmen untuk menjamin pembiayaan tenaga P3K. Tidak hanya itu, ia sempat didemo karena menurunkan besaran gaji dan mengurangi hari kerja tenaga kontrak. Kebijakan itu, menurutnya, terpaksa dilakukan demi memberikan kesempatan bagi mereka agar tetap bisa mengikuti seleksi P3K di kemudian hari.
Unggahannya ditutup dengan nada ringan. Anton menyampaikan terima kasih kepada perempuan dari Kampung Tengah yang telah mengirimkan kue berbentuk angka delapan itu.
“Kuenya enak, pas saat perut minta diisi,” tulisnya.
Kisah sederhana ini menjadi refleksi tentang keputusan penuh risiko yang pernah diambil Anton Hadjon demi mempertahankan keberlangsungan tenaga kontrak di Flores Timur—a keputusan yang kini kembali dikenang lewat sebuah kue nomor delapan.*(Ell).
|


