NTTKreatif.com, Tambolaka— Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) mengelar rapat koordinasi bersama para pengusaha ternak babi dan peternak lokal SBD, yang belangsung di Ruang Rapat Dinas Baperida, Pada Senin 24 Agustus 2026.

Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Bupati SBD Ratu Wulla Talu, bersama jajaran Dinas Peternakan Kabupaten SBD untuk menyosialisasikan Petunjuk Teknis (Juknis) serta Standard Operating Procedure (SOP) penerimaan pasokan babi dari luar pulau.

">

Langkah ini dilakukan guna menindaklanjuti Surat Edaran Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) mengenai pembukaan kembali izin lalu lintas ternak babi ke Pulau Sumba.

Fokus utama pertemuan adalah memberikan edukasi dan menyepakati aturan prosedur yang wajib dipatuhi oleh para pengusaha ternak di SBD.

Ketegasan SOP ini diterapkan demi melindungi wilayah SBD dari ancaman gelombang baru penyebaran African Swine Fever (ASF) atau virus demam babi Afrika.

Dalam sosialisasi tersebut, Pemkab SBD menegaskan salah satu aturan ketat, yaitu angkutan ternak babi dari luar daerah dilarang keras berhenti di jalan sebelum sampai di kandang penampungan resmi.

Forum dialog interaktif ini membuka ruang diskusi antara peternak, pengusaha, dan pemerintah daerah demi merumuskan solusi bersama yang menguntungkan tanpa mengorbankan keamanan ternak lokal.

Perwakilan peternak lokal, Yohanes Ngongo, mengaku sempat menolak rencana pembukaan keran pasokan babi dari luar SBD.

Alasan penolakan tersebut dilandasi trauma atas kehancuran ekonomi masyarakat akibat serangan virus ASF yang melanda daerah itu beberapa tahun lalu.

Namun, Yohanes akhirnya menyetujui kebijakan tersebut setelah terbangun kesepakatan tertulis dari para pengusaha untuk memperketat pengawasan dan menaati SOP.

“Penolakan awal kami murni karena rasa khawatir. Kami prihatin dengan peternak kecil yang akan gulung tikar jika virus ini kembali merajalela,” ujar Yohanes.