Apalagi di areal tersebut banyak sekali lapak yang dibiarkan kosong tanpa penghuni. Seperti yang terlihat Selasa, 16 Desember 2025 siang kemarin.

Dengan kapasitas 60 meja dan dilengkapi dengan air bersih, seharusnya lapak tersebut jauh lebih menjanjikan daripada menggunakan badan jalan untuk berjualan. Selain mengganggu arus lalu lintas, ketiadaan air bersih jadi persoalan tersendiri.

">

Alhasil, jalanan pun jadi korban. Bau menyengat tidak jarang tercium kala air sisa ikan dibuang begitu saja di badan jalan yang tentunya sudah tidak sehat.

Sehingga penggunaan kembali lapak di pasar Obakomi, hematnya wajib dilakukan untuk memastikan semuanya terjaga dengan baik bukan hanya para pedagang juga masyarakat pada umumnya.

Ikan Tidak Laku Jadi Alasan

Menariknya, alasan dibalik penolakan atas penertiban ini adalah tidak lakunya ikan jika dijual di pasar Obakomi. Sebuah alasan yang menurut redaksi tidak punya dasar yang kuat.

Bagaimana tidak, sebagai penjual soal laku dan tidaknya sebuah produk bukan semata pada ramainya pasar tapi keinginan pasar sendiri. Jika kualitas ikan dijaga dengan kemasan yang baik, maka permintaan pasar pun akan meningkat dengan sendirinya tanpa diminta.

Tak perlu jauh, saat para pedagang ikan menolak menempati lapak yang digunakan, maka mari kita menengok para penjual sayur mayur, bawang dan bumbu dapur, pakaian, sembako dan lainnya di Pasar Obakomi. Mereka begitu setia tetap berjualan walaupun pemasukan mereka kecil.

Bukan tidak mau, tapi mereka tahu rejeki sudah ada yang atur. Tinggal bagaimana mereka menjaga agar rejeki itu tidak lari ke tempat lain. Ini juga bentuk ketaatan kepada pemerintah sebagai penjaga mereka. Mereka tidak mau membuat pemerintah hanya berpikir hal remeh temeh seperti itu karena masih banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan.

Oleh karenanya, penertiban tersebut adalah sesuatu yang wajib dilakukan bukan untuk menekan, bukan juga tidak mau masyarakat sejahtera tapi lebih dari pada itu berusaha menjaga kota tetap bersih demi membangun ekosistem pariwisata berkelanjutan buat Sumba Barat Daya sendiri. ***

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625