Bagaimana tidak, sesaat sebelum kejadian dirinya menyebut tidak ada tanda-tanda aneh yang mereka alami.

Semuanya seolah biasa-biasa saja. Hingga di pukul 00.00 WITA, Gunung Lewotobi sebutnya bergemuruh hebat disertai gempa.

">

Dirinya dan teman-teman pun berhamburan keluar.

Sayang usai keluar atap seng asrama langsung jebol dihantam batu dan membuat abu panas berhamburan hingga mengenai betisnya.

“Saya belum tidur saat kejadian itu. Guncangan hebat membuat kami keluar asrama dan saat keluar baru plafom roboh karena batu dan abu panas. Listrik semua padam. Kami panik semua saat itu,” katanya.

Kondisi tersebut sebutnya diperparah dengan munculnya petir dimana-mana.

“Karena kondisi begitu kami kemudian diarahkan ke kapela untuk berlindung dan mendapatkan pengobatan. Karena kami ada beberapa yang terluka sebelum jam 4 bantuan datang dan bawa kami ke posko Lewolaga,” katanya.

Saat ditanya soal harapannya, Gabriel yang juga siswa kelas 2 tersebut hanya menjawab lirih kalau dirinya ingin kembali sekolah.

“Kami harap bisa pulih supaya kami bisa sekolah lagi,” ujarnya. ***

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625