NTTKreatif, LARANTUKA – Erupsi Gunung Lewotobi yang terjadi Minggu 3 November 2024 lalu meninggalkan sejumlah cerita yang mungkin tidak pernah dilupakan oleh sebagian orang termasuk mereka yang mengalaminya langsung.

Bagaimana tidak, peristiwa memilukan tersebut terjadi begitu saja tanpa ada yang bisa memprediksinya sebelumnya.

">

Apalagi hingga memakan korban 9 warga di bawah kaki Gunung Lewotobi. Tidak hanya nyawa, erupsi itu juga merusakkan sejumlah rumah warga dan juga beberapa fasilitas umum termasuk sekolah.

Salah satunya SMA Seminari San Dominggo Hokeng yang selama ini dikenal sebagai sekolah persemaian untuk para imam.

Kerusakan di sekolah tersebut cukup parah bahkan di asramanya sendiri.

Atap asrama jebol begitupun tembok bangunannya membuat ruangan demi ruangan tidak terlihat baik seperti sebelumnya.

Tidak mengherankan jika kemudian para penghuni rumah Nene Domi ini pun harus mengungsi jauh dari rumahnya sendiri.

Mereka mengungsi di Desa Lewolaga untuk mengamankan diri.

Menariknya, dari pengakuan salah satu siswa yang diketahui bernama Gabriel Taboruk kejadian tersebut seolah tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Bagaimana tidak, sesaat sebelum kejadian dirinya menyebut tidak ada tanda-tanda aneh yang mereka alami.

Semuanya seolah biasa-biasa saja. Hingga di pukul 00.00 WITA, Gunung Lewotobi sebutnya bergemuruh hebat disertai gempa.

Dirinya dan teman-teman pun berhamburan keluar.

Sayang usai keluar atap seng asrama langsung jebol dihantam batu dan membuat abu panas berhamburan hingga mengenai betisnya.

“Saya belum tidur saat kejadian itu. Guncangan hebat membuat kami keluar asrama dan saat keluar baru plafom roboh karena batu dan abu panas. Listrik semua padam. Kami panik semua saat itu,” katanya.

Kondisi tersebut sebutnya diperparah dengan munculnya petir dimana-mana.

“Karena kondisi begitu kami kemudian diarahkan ke kapela untuk berlindung dan mendapatkan pengobatan. Karena kami ada beberapa yang terluka sebelum jam 4 bantuan datang dan bawa kami ke posko Lewolaga,” katanya.

Saat ditanya soal harapannya, Gabriel yang juga siswa kelas 2 tersebut hanya menjawab lirih kalau dirinya ingin kembali sekolah.

“Kami harap bisa pulih supaya kami bisa sekolah lagi,” ujarnya. ***

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625