NTTKreatif.com, TAMBOLAKA — Bandara Udara Lede Kalumbang menggelar simulasi Penanggulangan Keadaan Darurat, Keamanan dan Keselamatan Penerbangan, pada Rabu 9 September, 2026.
Kegiatan ini merupakan wujud komitmen lintas instansi dalam meningkatkan kesiapsiagaan operasional menghadapi situasi krisis di lingkungan penerbangan.
Rangkaian simulasi ini menghadirkan latihan skala penuh (full scale exercise) yang melibatkan personel otoritas bandara beserta seluruh pemangku kepentingan terkait. Sebagai persiapan mendasar, kegiatan diawali dengan table top exercise sehari sebelumnya guna mematangkan skenario dan koordinasi antarunit.
Latihan dimulai dengan yang memeragakan penanganan demonstrasi massa serta ancaman bahan peledak di area terminal. Langkah sterilisasi area ini melibatkan unsur Bantuan Kendali Operasi (BKO) dari Polres Sumba Barat, Brimob, TNI, dan stakeholder terkait.
Skenario utama dilanjutkan dengan penanganan keadaan darurat penerbangan yang dialami oleh maskapai Pasola Air nomor penerbangan PA123. Pesawat rute Bandara I Gusti Ngurah Rai Denpasar menuju Bandara Lede Kalumbang Tambolaka tersebut dilaporkan mengalami kendala teknis krusial di udara pada pukul 11.27 WITA.
Kepala Unit Bandar Udara Lede Kalumbang, Agus Priyatmono, menjelaskan bahwa pilot mendeteksi adanya kegagalan fungsi pada sistem roda pendaratan (landing gear). Roda pesawat tidak dapat terkunci dengan sempurna saat sistem dipersiapkan untuk pendaratan.
Mengetahui indikasi kerusakan tersebut, pilot segera menghubungi menara pengawas (Air Traffic Control/ATC) Bandara Lede Kalumbang. Pilot meminta izin melakukan prosedur melintas rendah (fly-pass) guna memastikan kondisi fisik landing gear secara visual dari menara pengawas.
Petugas ATC memberikan persetujuan penerbangan melintas rendah. Hasil pengamatan visual petugas tower mengonfirmasi bahwa posisi roda pendaratan pesawat memang belum terpasang dan terkunci secara sempurna.
Pertimbangan jarak dan kondisi teknis tidak memungkinkan pesawat untuk kembali ke bandara asal di Denpasar. Oleh karena itu, pilot mengambil keputusan operasional untuk melanjutkan prosedur pendaratan darurat di Bandara Lede Kalumbang.
Sebelum mendekati landasan pacu, pilot menjalankan prosedur pengosongan bahan bakar (fuel dumping) di area udara yang aman. Langkah ini diambil untuk meminimalkan risiko bahaya benturan fatal dan ledakan saat pendaratan dilakukan.
Pesawat kemudian diarahkan menuju landasan pacu (runway) 28. Namun, saat roda menyentuh landasan, sistem landing gear mendadak macet total hingga mengakibatkan pesawat kehilangan kendali arah.
Kegagalan mekanis tersebut menyebabkan pesawat tergelincir parah (swing) keluar dari lajur landasan pacu. Gesekan dan benturan keras memicu letupan api besar pada mesin nomor dua di bagian belakang pesawat.
Sistem peringatan darurat bandara langsung aktif seketika. Tim Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) bergerak ke lokasi kejadian dengan waktu tanggap (response time) di bawah 60 detik.
