Di sisi lain, militer AS menolak mundur. Menanggapi situasi yang kian memanas, Departemen Pertahanan AS menegaskan posisi mereka.

“Amerika Serikat tidak akan membiarkan jalur internasional vital ini ditutup oleh aksi sepihak. Armada Kami tetap bersiap mengawal kapal-kapal dagang dan merespons setiap ancaman,” ungkap juru bicara Pentagon dalam konferensi pers yang dilaporkan oleh Reuters (September 2026).

Buntut dari aksi blokade dan baku tembak di urat nadi minyak dunia sepanjang September 2026 ini langsung memicu gelombang kepanikan global.

Harga Minyak Mentah Melonjak, seperti dilaporkan Bloomberg, harga minyak mentah jenis Brent melambung tinggi menembus angka US$100 per barel.

Selain itu, ancaman tumpahan minyak, seperti tembakan rudal dan kerusakan pada kapal-kapal tanker berpotensi memicu pencemaran ekosistem laut terbesar di perairan Teluk.

Bukan hanya itu, Krisis Jalur Logistik dimana puluhan kapal tanker berisi jutaan barel minyak kini tertahan di laut lepas tanpa kepastian keamanan.

Dunia kini menahan napas menyaksikan apakah diplomasi internasional mampu meredam situasi, atau justru Selat Hormuz akan menjadi pemicu awal peperangan yang jauh lebih luas.***