“Siapa yang tidak marah anak 14 tahun diperkosa dan dibunuh. Sedang polisi sendiri acuh tak acuh, lalu kepolisian mau orang yang mengkritik mereka harus bersopan santun, dan beretika? Loh mereka saja tidak beretika dan berempati kok. Bagaimana kita melihat mereka tidak menghargai kepentingan korban untuk mendapatkan haknya terhadap perkembangan penanganan kasus ini. Bagaimana mereka tidak serius saat menerima laporan keluarga terhadap kehilangan anak korban. Bagaimana mereka tidak pro aktif untuk mencari korban hingga keluarga sendiri yang mencari dan menemukan jenasah korban,” ungkapnya kesal.

Bahkan ibu korban sendiri sebutnya sempat mengelurkan bahasa apakah karena korban miskin dan tak terdidik, maka pengungkapan kasus ini sulit sekali keluarga dapati secara adil.

">

Hal yang membuat dirinya dan anggota kesal dengan sikap anggota Polres Sikka tersebut.

“Sehingga ketika berhadapan dengan diksi polisi hanya tamat SMA, polisi tidak boleh fokus pada diksi SMAnya namun harus mencaritahu kenapa masa aksi memilih diksi itu? Apakah karena kerja-kerja kepolisian yang tidak profesioanal, apakah karena ada oknum polisi yang arogan dengan menyundul massa aksi dan mencederai massa aksi hingga terluka? Ya tentu saja iya karena hari-hari ini, itu yang dipertontokan kepada masyarakat,” ungkapnya lagi.

Dirinya lantas meminta polisi di Sikka untuk mengerti apa itu Sarkasme yang bertujuan untuk mengkritik kinerja yang dianggap jauh dari harapan.

Namun begitu, kata dia lagi, pihaknya tetap mendukung polres untuk mengungkap kasus ini secara terang.

“Dan PMKRI akan terus berada pada isu substansi kasus dan tidak akan sedikit pun keluar atau pun melebar dari semangat awal mewujudkan keadilan bagi adik noni dan keluarganya,” tegasnya kembali. ***

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625