Oleh: Max Werang Penulis Kampung

 

Dalam budaya yang kerap menilai waktu sebagai produktivitas dan hasil sebagai ukuran keberhasilan, Sabtu Kudus datang seperti gangguan. Ia sunyi, kosong, tanpa liturgi besar, tanpa drama salib, dan tanpa gegap gempita kebangkitan. Tapi justru dalam keheningan inilah, Sabtu Kudus mengajarkan sesuatu yang lebih dalam bahwa iman bukan hanya soal apa yang terlihat, melainkan tentang kesetiaan dalam diam.

Sabtu Kudus: Hari Tuhan Berdiam

Sabtu Kudus, hari di mana tubuh Yesus dibaringkan dalam kubur adalah simbol keheningan yang paling menusuk dalam iman Kristen. Tidak ada peristiwa spektakuler, tidak ada mukjizat terlihat, hanya sepi dan duka. Teolog Katolik Karl Rahner menyebut hari ini sebagai “the day of God’s silence.” Suatu hari di mana langit tampak tertutup dan Tuhan seolah-olah tidak menjawab.

Namun, diam bukan berarti Tuhan absen. C.S. Lewis dalam bukunya The Problem of Pain (hal. 93) menulis:
“God whispers to us in our pleasures, speaks in our conscience, but shouts in our pains: it is His megaphone to rouse a deaf world.” (Tuhan berbisik kepada kita dalam kesenangan kita, berbicara dalam hati nurani kita, tetapi berteriak dalam kesakitan kita: itu adalah megafon-Nya untuk membangunkan dunia yang tuli.)

Dalam konteks Sabtu Kudus, kutipan ini seperti menggema. Tuhan sedang tidak bersuara, bukan karena Ia pergi, tapi karena Ia sedang bekerja dalam diam. Di kedalaman kubur, misteri kebangkitan sedang dipersiapkan.

Dari Kubur Kosong ke Hati yang Penuh

Lalu, Hari Paskah tiba. Dan bersama fajar, batu terguling, dan kubur itu kosong. Dunia diundang untuk bersukacita, sebab Sang Hidup telah mengalahkan maut. Tapi Paskah tidak hanya soal kemenangan Kristus, Paskah juga soal keberanian manusia untuk memulai kembali.

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625