“Sama sekali saya tidak pernah tanda tangan daftar hadir dan kumpul info GTK. Karena info GTK itu kami harus tanda tangan di atas materai 10 ribu baru kasih masuk di dinas. Dan kepala sekolah tidak pernah juga minta saya untuk kumpul berkas. Sekali lagi, saya tidak tahu sama sekali ini masalah. Saya baru tahu di akhir bulan Desember oleh Pak Remi dan juga pemberitaan di media,” katanya.
Dirinya menambahkan tidak hanya berkasnya, namanya yang masuk dalam SK Nominasi pun sebutnya tidak pernah ia ketahui. nApalagi namanya masuk SK Nominasi untuk menggantikan nama Remigius Kana Laka. Buktinya kata dia, hingga kini ia tidak pernah mendapatkan uang tunjangan sebagaimana yang disampaikan.
“Saya tidak pernah tahu kalau nama saya masuk nominasi sebagai penerima tunjangan. Nama saya dicatut. Bahkan saya sendiri tidak pernah mendapatkan uang tersebut. Saya malah hanya dapatkan honor yang bersumber dari Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS),” tegasnya kembali.
Uang Tunjangan Raib? Entahlah
Sebuah pengakuan yang membuka fakta baru dalam kasus ini. Bagaimana tidak, dalam penelusuran nttkreatif.com, sejak Remigius Kana Laka tidak mendapatkan lagi tunjangan guru per Juli 2024, indikasi permainan dalam pengurusan tunjangan ini mulai perlahan terkuak.
Bukan hanya alasan yang diberi pihak dinas yang terkesan berbelit-belit tapi juga muncul kesan mencuci tangan dengan melempar persoalan ini kembali ke pihak Dirjen yang mengeluarkan SK Nominasi. Padahal sesuai Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi nomor 45 tahun 2023 tentang petunjuk teknis pemberian tunjangan guru ASND di poin input dan atau pembaruan data guru ASN Daerah di nomor i Dinas Pendidikan pun diberi wewenang untuk memastikan data guru ASN Daerah pada dapodik akurat dan logis sesuai dengan kondisi guru di daerah yang tentunya tidak bisa terelakkan begitu saja.
Terlebih mengacu pada data Dapodik SDN Gollu Uta terekam jelas data Antonius Nusa yang nol jam dan Remigius Kana Laka yang 24 jam. Perbedaan yang signiifikan tentunya namun menimbulkan tanya kenapa dan bagaimana seorang yang punya nol jam di sekolah bisa lebih diunggulkan masuk nominasi ketimbang yang punya jam mengajar di sekolah?
Sialnya, keanehan itu bertambah dengan fakta uang tunjangan Antonius Nusa (catatan: kalau memang masuk nominasi) raib entah kemana. Sebuah catatan penting yang mungkin harus ditelusuri lebih jauh oleh pihak berwajib mumpung masih ada waktu karena waktu tidak menunggu kita sadar kalau masalah ini masih terus jadi atensi publik. ***
|
