Oleh: Severius Eventus Lelan
Ekaristi di tanah Timor semestinya tidak dirayakan dalam keheningan yang kaku, sebab di atas tanah batu karang ini, iman telah lama belajar cara “menari”. Jika altar adalah pusat perjumpaan dengan Yang Ilahi, maka lingkaran tarian Bonet adalah altar budaya di mana genggaman tangan. dan derap langkah yang seirama menjelma menjadi doa yang paling jujur.
Menghadirkan spirit Bonet ke dalam perjamuan Ekaristi bukanlah sekadar upaya estetika untuk mempercantik ritus, melainkan sebuah pengakuan teologis bahwa persekutuan (koinonia) yang kita muliakan di atas mezbah, sesungguhnya telah berdenyut dalam nadi persaudaraan masyarakat Timor jauh sebelum liturgi formal diperkenalkan.
Derap langkah yang seragam dalam lingkaran Bonet bukan sekadar gerak ritmik, mela inkan sebuah pernyataan ontologis tentang kesetaraan di hadapan Sang Khalik. Dalam lingkaran itu, sekat-sekat sosial yang sering kali memisahkan kita di kehidupan sehari-hari-antara yang berpunya dan yang berkekurangan, antara pemegang otoritas dan rakyat jelata-seketika luruh.
Bonet menuntut penyerahan ego secara total; seseorang tidak bisa menari sendirian atau melangkah lebih cepat dari yang lain tanpa merusak harmoni seluruh komunitas. Hal ini menjadi kritik sekaligus penyempurna bagi perayaan Ekaristi kita yang terkadang terjebak dalam kasta-kasta sosial yang tidak terlihat.
Bonet mengajarkan bahwa untuk layak menyambut Tubuh Kristus, komunitas harus terlebih dahulu menanggalkan jubah keangkuhannya dan melebur ke dalam “kita” yang satu. Di hadapan meja perjamuan Tuhan, sebagaimana dalam lingkaran Bonet, hanya ada saudara yang saling membutuhkan, bukan saingan yang saling menjatuhkan.
Lebih jauh lagi, genggaman tangan yang saling mengunci dalam Bonet melambangkan sebuah “sakramen sosial” yang hidup. Jika dalam Ekaristi kita menerima roti sebagai tanda persatuan vertikal dengan Kristus, maka dalam Bonet, sentuhan fisik antar-saudara adalah tanda persatuan horisontal dengan sesama makhluk ciptaan.


