NTTKreatif.com, Maumere – Aksi demo PMKRI Sikka di Mapolres Sikka soal kematian STN memang sudah usai namun ceritanya masih terus terasa hingga kini.

">

Bahkan cerita itu berlanjut sampai ke dunia maya. Bukan tanpa alasan, dalam aksi tersebut, selain mengecam sikap Polres Sikka yang lamban menangani kasus kematian remaja STN alias Noni, salah satu orator kala itu malah mengkritik anggota Polisi dengan diksi ‘Polisi Hanya Tamatan SMA’.

Sontak saja diksi yang dibarengi dengan video itupun langsung dihujani kritik banyak pihak.

Bahkan beberapa keluarga anggota polisi pun ikut mengkritisi pernyataan tersebut.

Menanggapi hal tersebut Presidium PMKRI Sikka. Johan De Brito Papa Naga mengatakan kalau diksi tersebut memang akan menimbulkan ketersinggungan namun hal tersebut akan berbeda pemaknaannya jika dipahami oleh orang yang mengedepankan substansi perjuangan.

“Orang boleh tersinggung dengan pilihan diksi yang teman-teman saya pilih, ‘polisi hanya tamatan SMA’. Tapi kalau berhadapan dengan orang yang terbuka dan mengerti, maka orang akan fokus pada substansi, bukan pada diksi,” ungkapnya.

Dirinya mengatakan diksi itu hanya alat pakai untuk mentransfer emosi saat substansi perjuangan urung didengar terlebih lagi dalam kasus STN tersebut kata dia, anggota polisi terkesan acuh tak acuh dengan kasus tersebut bahkan menimbulkan kecurigaan akibat fakta yang janggal.

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625