NTTKreatif.com, Waikabubak – Pulau Sumba sedari dulu sudah dikenal dengan keindahan alamnya indah dan asri.
Bahkan Pulau Sumba pernah dinobatkan sebagai salah satu pulau terindah di Dunia yang membuatnya kemudian menjadi magnet tersendiri bagi para wisatawan.
Tidak heran jika banyak wisatawan silih berganti datang ke pulau yang dijuluki Pulau Marapu tersebut.
Salah satu yang menjadi sasaran para wisatawan adalah Pantai Watu Bela di Desa Marosi, Desa mekar dari Patiala Bawa, Kecamatan Lamboya, Sumba Barat.
Bagaimana tidak, pantai yang terletak di selatan Sumba Barat itu tidak hanya menawarkan keindahan pantai berpasir putih dengan bebatuan yang eksotis tapi juga menawarkan suasana yang sulit ditemukan di wilayah manapun.
Apalagi, saat deru ombak bergulung-gulung bak karpet biru menerpa kaki yang melintas di pinggirannya membuat siapa pun yang datang ke sana tidak akan melupakan sensasi keindahan Watu Bela.
Belum cukup sampai di situ, jika jejak kakimu dipaksa untuk menelusuri setiap jengkal demi jengkal Watu Bela maka langkahmu akan terhenti pada sebuah batu berongga raksasa berwarna putih dengan lekukan rapi dan indah hasil pahatan sang pemilik.
Di dalamnya terdapat sebuah gua berukuran besar dengan ornamen keren yang sudah pasti membuat mata siapapun terkesima.
Terlebih saat gulungan ombak laut masuk ke dalamnya dan memecah di tebing batu yang menghasilkan suara khas alam yang harmoni.
50 KM dari Pusat Kota

Untuk mencapai Pantai Watu Bela, memang tidak mudah. Butuh effort luar biasa dengan ketahanan tubuh yang maksimal.
Bukan karena sulitnya mendapatkan akses perginya tapi jaraknya yang terbilang cukup jauh dari pusat kota.
Untuk mencapainya, para wisatawan atau para pelancong harus menempuh jarak sekitar 50 kilometer dari pusat Kota Waikabubak atau sekitar 1,5 jam perjalanan dengan akses jalan yang tergolong bagus.
Walaupun jalan masuk ke pantai tersebut jalannya masih berbatu dengan kerikil kecil yang sudah terlepas tapi hal tersebut tidak mengurangi keindahan yang akan didapatkan setelahnya.
Warga Yang Ramah

Usai tiba, para wisatawan akan menemukan sebuah kampung kecil dengan jejeran rumah khas sumba berpanggung dan beratapkan alang.
Di kampung itulah, akses masuk para wisatawan menuju ke pantai. Jaraknya pun tak jauh, hanya beberapa meter saja.
Di sana kamu akan disambut warga lokal yang cukup ramah. Tidak banyak yang dibicarakan hanya menyapa dan menerangkan soal kondisi tempat tersebut.
Termasuk menjajakan kelapa hingga lopo-lopo kecil yang dibuat dari tangan mereka sendiri sebagai tempat istirahat para wisatawan yang membutuhkan.
“Harga lopo Rp20.000 sedangkan untuk toilet Rp5.000 sekali pakai,” terang warga lokal Bapa Novi.
Menurutnya, sejak viral setahun silam, tingkat kunjungan ke tempat wisata itu naik drastis.
Hampir setiap hari ada saja wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke lokasi tersebut.
Puncaknya, kata dia terjadi pada hari-hari libur dimana banyak warga maupun wisatawan yang hadir yang membuatnya dan sejumlah warga lokal kesulitan.
“Banyak yang datang pas libur,” ungkapnya kembali.
Demikianlah Watu Bela dengan keindahan dan cerita yang melingkupinya. Tak sempurna memang namun dia hadir untuk menyempurnakan Sumba yang sudah sempurna.
Membuat Sumba tetap dikenang sebagai salah satu surga lain di NTT. ***
|
