Sementara itu, Bupati SBD, Ratu Wulla Talu dalam sambutannya menyambut baik kehadiran program Genre yang dinilainya baik itu. Bagaimana tidak, kehadiran program tersebut secara tidak langsung akan memberikan efek positif dalam membangun kesadaran dan kesiapsiagaan komunitas Sekolah Dasar di pesisir terhadap perubahan iklim dan bencana alam.
Terlebih lagi dari data yang ada, Indonesia menempati peringkat kedua kerawanan global resiko bencana 2023 dengan skor 43,5 per 100. Sedangkan dari data BNPB mencatat terdapat 2017 bencana pada tahun 2024 dengan 19 persennya terkait cuaca yang menyebabkan 63 juta pengungsian.
“Untuk anak-anak diperkirakan ada 23 juta anak indonesia tinggal di zona banjir pesisir termasuk cuaca ekstrim, kebakaran hutan, banjir, longsor dan lain-lain yang menyebabkan kerusakan pada 274 sekolah,” bebernya.
“Saya pikir ini kegiatan yang baik dan kita berharap ini jadi langkah strategis untuk menciptakan lingkungan sekolah dan masyarakat yang tangguh terhadap perubahan iklim dan melindungi generasi dari resiko bencana,” tambahnya lagi.
Dirinya pun berharap dengan kegiatan ini nantinya bisa membangkitkan kesadaran generasi penerus untuk menghadapi resiko bencana dengan terus melakukan kolaborasi dan komitmen secara bersama semua elemen yang ada.
“Sebagai Bupati, saya membuka ruang kolaborasi itu karena pemerintah tidak bisa menyelesaikan segala persoalan yang terjadi di wilayah ini. Saya minta ke depan kegiatan Genre ini bisa dilakukan dengan baik dimana harus diupayakan adanya monitoring dan evaluasi,” tegasnya lebih lanjut. ***
|


