NTTKreastif,com, Maumere– Pedagang kaki lima atau PKL yang telah mengantongi ijin berjualan di area pelabuhan Laurentius Say Maumere, kabupaten Sikka, NTT, mengeluhkan omset menurun drastis.
Alhasil, mereka bakalasn kesulitan untuk bayar sewa kalau masih pedagang asongan yang masih diijinkan berjualan dan mengganggu kenyamanan penumpang.
Keluhan ini disampaikan oleh ketua pedagang kaki lima pelabuhan Laurentius Say Maumere, Maria Goreti Koten saat acara penyerahan bantuan lapak kepada pedagang kaki lima di pelabuhan Laurentius Say Maumere pada Jumat, 6 Maret 2026 lalu.
“Satu hari dapat 100 ribu rupiah saja susah sekali. Dulu sebelum ada asongan lumayan omset sehari bisa dapat Rp 200 hingga Rp 500 ribu setiap kapal masuk, ” ungkapnya yang sering disapa Mama Ety.
Dirinya pun berharap kepada pihak pelabuhan untuk menertibkan pedagang asongan yang berjualan di pelabuhan.
“Kami bersyukur sudah terima lapak gratis, sekarang kami harus berjuang untuk membayar sewa lahan Rp 2.313.000 per tahun. Kalau omset kami turun bagaimana kami bisa sewa lahan. Asongan bisa sampai ke kapal, kalau penumpang beli langsung di asongan, kami pedagang kaki lima resmi yang berjualan di lapak dapat apa,”sambung dia.
Hal senada pun disampaikan oleh pedagang lainnya yang tidak mau menyebut namanya. Menurutnya, keberadaan pedagang asongan tidak hanya menurunkan pendapatan, tetapi juga membuat pemandangan pelabuhan menjadi kurang tertib.
“Kalau mereka (pedagang asongan) berjualan di kapal semuanya serba ada. Tidak mungkin penumpang mau turun belanja ke lapak kami, karena asongan sudah berjualan di kapal, ” ujarnya.
KSOP Sebut Jadi Tanggung Jawab Pelindo




