NTTKreatif, DAMASKUS – Setelah 53 tahun berkuasa di Suriah, rezim Presiden Suriah, Bashar al-Assad akhirnya tumbang.
Tumbangnya rezim itu seiring dengan aksi penyerangan dari pasukan oposisi Suriah yang dipimpin Hayat Tahrir al-Sham (HTS) yang merupakan bekas afiliasi Al-Qaeda.
Penyerangan tersebut terjadi pada Minggu, 8 Desember 2024 lalu.
Sialnya, saat penyerangan tersebut dilakukan Assad sudah meninggalkan negaranya dan pergi ke Rusia.
Kepergiannya tersebut pun dianggap sejumlah pihak sebagai proses pelarian.
Namun dirinya membantah hal tersebut. Melalui pesan telegram sebagaimana dikutip dari Aljazeera, Assad menyebut kalau kepergiannya itu tidak direncanakan sebelumnya.
“Kepergian saya dari Suriah tidak direncanakan atau terjadi pada jam-jam terakhir pertempuran, seperti yang diklaim beberapa orang,” kata pernyataan tersebut.
Dirinya menambahkan kalau dirinya tetap berada di Damaskus hingga serangan pemberontak menguasai kota sehingga ia pindah ke pangkalan Rusia di kota pesisir Latakia untuk mengawasi operasi tempur.
Berdasarkan pernyataan tersebut, pangkalan itu diserang pesawat tak berawak dari pejuang oposisi bersenjata.
“Dengan tidak adanya sarana yang memungkinkan untuk meninggalkan pangkalan tersebut, Moskow meminta agar komando pangkalan tersebut mengatur evakuasi segera ke Rusia pada Minggu malam tanggal 8 Desember,” terangnya lagi. ***

